Jumat, 12 September 2014

Bukan "Sinetron"





Al imamul Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata
    "Apabila seseorang telah menyatakan dirinya beriman, maka segeralah ia bersiap-siap karena sesungguhnya panah-panah fitnah akan mengarah padanya."

dalam surat al-ankabut ayat 2 Allah Subhanallahu Wata'ala berfirman



Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

fitnah yang akan menimpa umat manusia adalah dalam dua urusan besar kehidupan mereka, yaitu dalam urusan agama dan urusan dunia mereka.

Dalam urusan manusia tentang masalah ber-agama ujian akan datang menimpa pada keimanan serta kehidupan beragama itu sendiri. 
Dimana di jaman yang serba modern serba canggih dan serba cepat, informasi dan teknologi seolah berlomba lari saling susul menyusul sehingga tak jarang memunculkan distorsi pada benteng benteng keimanan umat manusia. 
Sedangkan dalam kehidupan ber-agama seringkali perbedaan pendapat dan cara pandang dalam menjalankan agama itu sendiri memunculkan riak dalam berhubungan keber-agamaan dengan masyarakat sekitar.

Dalam urusan dunia segala sesuatunya bisa jadi fitnah, semua yang ada di sekitar kita, anak - pasangan - orangtua - kawan - kerabat - dan setiap individu bisa jadi fitnah bagi individu yang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Furqon ayat 20


"............     وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ      ............"

  Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain.
Maukah kamu bersabar?


Begitulah sesungguhnya hakekat kehidupan di dunia ini, segala sesuatu nya adalah fitnah, segala sesuatu nya sesungguhnya hanya cobaan.......maka apakah kita akan bersabar, ataukah kita akan jadi ingkar dan kemudian jadi makar.

Yang harus kita pahami tentang kehidupan di dunia ini adalah, bahwa 

Dunia ini bukanlah surga yang penuh dengan kenikmatan
   Tak ada kebahagian yang abadi di dunia ini, setiap orang bagaimanapun kondisi dan keadaannya pasti mengalami kesusahan dan episode suram dalam hidupnya.  

Dunia ini bukanlah kampung keabadian
    Segala yang didunia ini selalu berubah dan berubah, baik itu secara lahiriah maupun batiniah.  Maka tak ada yang perlu disombongkan, secara fisik kulit halus mulus kencang paling lama bisa bertahan berapa lama, tubuh gagah perkasa paling kuat berapa lama. 
Maka sungguh tak ada yang bisa dan perlu untuk disombongkan.

Dunia ini adalah kampung ujian Dan seperti itulah memang sebenarnya kita manusia ini diciptakan, kita tidaklah dicipta dalam kondisi yang serba enak, sebelum lahir kita butuh waktu untuk tumbuh dan siap menghadapi dunia, dan ketika lahir pun kita menjalani proses jatuh bangun hingga dewasa.
Dan ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Balad ayat 4
   

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
  

 Dengan segala kenyataan terpapar diatas, maka sungguh amat disayangkan bila hidup di dunia ini hanya segala hal yang bersifat sementara saja yang jadi tujuan kita, yang kita buru dan kejar sepanjang hari.       
Allah Subhanallahu Wata'ala sudah memperingatkan kita
 
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)



Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam Tafsir-nya terhadap ayat diatas menyatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hakikat dunia dan apa yang ada di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan akhir kesudahannya dan kesudahan penduduknya. 
Dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Mempermainkan tubuh dan melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan terjadi pada anak-anak dunia. 
Engkau dapati mereka menghabiskan waktu-waktu dalam umur mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan melengahkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun janji (pahala dan surga, –pent.) dan ancaman (adzab dan neraka, –pent.) yang ada di hadapan, engkau lihat mereka telah menjadikan agama mereka sebagai permainan dan gurauan belaka. 
Berbeda halnya dengan orang yang sadar dan orang-orang yang beramal untuk akhirat. Hati mereka penuh disemarakkan dengan dzikrullah, mengenali dan mencintai-Nya. 
Mereka sibukkan waktu-waktu mereka dengan melakukan amalan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah daripada membuangnya untuk sesuatu yang manfaatnya sedikit.”


Asy-Syaikh rahimahullahu melanjutkan, “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan permisalan bagi dunia dengan hujan yang turun di atas bumi. Suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan hewan. Hingga ketika bumi telah memakai perhiasan dan keindahannya, dan para penanamnya, yang cita- cita dan pandangan mereka hanya sebatas dunia, pun terkagum-kagum karenanya. 
Datanglah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akhirnya tanaman itu layu, menguning, kering dan hancur. Bumi kembali kepada keadaannya semula, seakan- akan belum pernah ada tetumbuhan yang hijau di atasnya. 
Demikianlah dunia. Tatkala pemiliknya bermegah-megahan dengannya, apa saja yang ia inginkan dari tuntutan dunia dapat ia peroleh. Apa saja perkara dunia yang ia tuju, ia dapatkan pintu-pintunya terbuka. 
Namun tiba-tiba ketetapan takdir menimpanya berupa hilangnya dunianya dari tangannya. Hilangnya kekuasaannya… Jadilah ia meninggalkan dunia dengan tangan kosong, tidak ada bekal yang dibawanya kecuali kain kafan….” 
(Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 841)

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau.  Kemudian Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat), kemudian Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata: 


أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.”  (HR. Muslim no.7344)



Maka sebagai mahluk yang dianugerahkan oleh Allah dengan akal pikiran dan keutamaan maka ketika mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan dunia, maka mereka para sahabat pun enggan untuk tenggelam dalam kesenangannya. 
Apalagi kemudian mereka mengetahui bahwa Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia penuh kezuhudan serta telah memperingatkan para shahabatnya dari fitnah dunia. 
Maka mereka pun akan mengambil dunia hanya sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak- banyaknya.  
 Yang mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka akan tinggalkan yang melalaikan.

Seperti demikianlah seharusnya sikap kita terhadap dunia ini, sebagaimana yang telah di contohkan oleh orang-orang terdahulu. 

Adalah sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menyampaikan pesan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam 

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
 Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)
Kemudian setelah menyampaikan hadis tersebut beliau berkata, Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”


Adapun mengenai kezhuhudan dan sifat qana'ah (merasa cukup dengan apa yang dimiliki) beliau Radhiyallahu anhum, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pemuda Quraisy yang paling dapat menahan dirinya dari dunia adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala`, hal. 3/211)




Maka yakinkan diri kita, bahwasannya hidup bukanlah panggung sandiwara atau sebuah sinetron yangmana semua serba indah mewah bergelimang harta, namun hidup dan kehidupan ini adalah tempat ujian semata



semoga bermanfaat sebagai pengingat diri sendiri
dicatat dari kajian ust. Abdur Ro'uf  
oleh Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari  

Selasa, 02 September 2014

mengenal WALISONGO




Jejak awal penyebaran Islam di tanah Jawa


Banyak yang mengenal dan hafal nama-nama walisongo, serta meyakini bahwa merekalah penyebar agama islam di tanah jawa ini.  Benar, memang benar dan tidak salah, tapi alangkah bijaknya bila kita mengetahui dari awal perjalanan bagaimana Islam mulai dikenalkan di tanah Jawa ini.

Karena kekayaan akan aneka macam rempahnya maka jawa termasuk yang paling banyak dikunjungi saudagar dari berbagai manca negara, dan diantaranya adalah dari Gujarat (India).  Berdasarkan kitab Kanzul Ulum karya Ibnul Bathuthah inilah dikatakan bahwa para saudagar dari Gujarat tersebut yang melapor kepada Sultan Turki Muhammad I bahwa pemeluk agama islam di tanah jawa masihlah sangat sedikit.  Dan sebagai tindak lanjutnya, maka Sultan Muhammad I membentuk tim yang terdiri Sembilan Orang untuk berangkat dan mengenalkan tentang islam di tanah jawa.

Mereka adalah :

1.  Maulana Malik Ibrahim berasal dari Turki, beliau adalah ahli dalam bidang irigasi dan tata pemerintahan.
2.  Maulana Ishaq dari Samarkan, merupakan seorang yang ahli dalam bidang pengobatan.
3.  Maulana Ahmad Jumadil Kubro berasal dari Mesir
4.  Maulana Muhammad Al Maghrobi dari Maroko 
5.  Maulana Malik Isro'il berasal dari Turki, merupakan ahli pemerintahan.
6.  Maulana Muhammad Ali Akbar dari Iran, yang juga ahli dalam pengobatan.
7.  Maulana Hasanudin dari Palestina
8.  Maulana Aliyuddin juga dari Palestina
9.  Syekh Subakir dari Iran, yang merupakan ahli dalam bidang kemasyarakatan.

Keberangkatan dan kedatangan mereka bersembilan ke tanah jawa saat itu adalah sangat tepat, karena saat itu Majapahit yang sedang berkuasa pun sedang dilanda perang saudara (perang paregreg) sehingga kehadiran mereka tidak begitu menarik perhatian penguasa.    


yang perlu diketahui adalah, walaupun jumlah mereka sembilan namun Sultan Muhammad I tidak pernah menyebut atau menamai mereka sebagai Walisongo atau wali sembilan ataupun sembilan wali dan dalam bidang keagamaan mereka belumlah terlalu mumpuni, jadi bisa dikatakan mereka sebagai pembuka jalan atau awalan.


Pada tahun 1421 M  ditunjuklah Ahmad Ali Rahmatullah dari Champa sebagai penerus Maulana Malik Ibrahim guna memimpin penyebaran agama islam di tanah Jawa.  Beliau adalah keponakan dari Maulana Ishaq, dan beliau merupakan putra dari Ibrahim Asmarakandi menantu dari raja Champa.  Penunjukan atas diri Ahmad Ali Rahmatullah adalah sangat tepat selain ilmu agamanya yang lebih mumpuni, bibi beliau adalah istri dari putra mahkota Majapahit.  Sehingga sangat diharapkan dapat mengajak prabu Kertawijaya memeluk agama islam, atau setidaknya tidak menghalangi penyebaran agama islam di tanah jawa.  Mengenai dialog antara Ahmad Ali Rahmatullah dan prabu Kertawijaya yang berisi ajakan untuk memeluk agama islam adalah sebagai mana tertulis dalam kitab Walisana dengan langgam sinom pupuh IV bait 9 - 11 dan 12 - 14.


Karena masih masuk sebagai kerabat istana, maka Ahmad Ali Rahmatullah sering dipanggil dengan sebutan raden atau tepatnya Raden Rahmat yang kemudian oleh raja Majapahit diberikan kekuasaan atas wilayah Ampeldento yang kemudian dijadikan sebagai pesantren dan basis penyebaran agama islam.  Dari sinilah kemudian Raden Rahmat atau Ahmad Ali Rahmatullah kemudian mendapat sebutan sebagai Sunan Ampel [menurut Widji Saksono{1995 : 23 - 24}].
Kedatangan Raden Rahmat ke tanah jawa tidaklah sendirian, beliau disertai oleh dua pemuda bangsawan yang memiliki ilmu agama yang baik, selain itu beliau juga diikuti oleh 40 orang pengawal.   Kedua pemuda bangsawan tersebut adalah Raden Santri Ali yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gresik dan Alim Abu Hurairah yang kemudian lebih dikenal sebagai Sunan Majagung, kedua pemuda ini pada akhirnya bermukim di Gresik.  


Pada Tahun 1435 M ketika Maulana Malik Isro'il dan Maulana Muhammad Ali Akbar wafat, para anggota dewan yang tersisa mengajukan permohonan kembali kepada kesultanan Turki untuk dikirimkan penggantinya, namun kali ini mereka meminta agar yang dikirimkan setidaknya memiliki ilmu agama lebih mendalam dari yang sebelumnya.  
Maka pada tahun 1436 M dikirimkanlah dua orang juru dakwah pengganti, yaitu :

1.  Sayyid Ja'far Shodiq dari Palestina, pada akhirnya beliau bermukim di Kudus dan kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus.  
Dalam buku babad Demak karya Atmodarminto (2001) disebutkan, bahwa Sayyid Ja'far Shodiq adalah satu-satunya anggota dewan walisongo yang paling menguasai ilmu fiqih.

2.  Syarif Hidayatullah dari Palestina, beliau adalah seorang ahli perang.
Menurut buku Babad tanah Sunda babad Cirebon karya PS Sulendraningrat (tanpa tahun) Syarif Hidayatullah adalah cucu prabu Siliwangi dari Pajajaran, hasil dari pernikahan Rara Santang dan Sultan Syarif Abdullah dari Mesir.  
Pada akhirnya Syarif Hidayatullah bemukim di Cirebon dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati .


Seiring berjalannya waktu para anggota sembilan utusan kesultanan Turki yang pertama mulai habis, setelah wafatnya Maulana Malik Ibrahim, Maulana Malik Isro'il, Maulana Muhammad Ali Akbar kemudian tahun 1462 disusul oleh Maulana Hasanudin dan Maulana Aliyuddin serta kembalinya Syekh Subakir ke Persia dan perginya Maulana Ishaq untuk berdakwah ke Pasai, maka para anggota dewan yang tersisa seperti saat sebelumnya menggantikan empat terakhir yang berkurang dengan empat anggota baru.  Namun untuk kali ini mereka tidak lagi meminta bantuan atau dukungan dari kesultanan Turki, namun menunjuk dari kalangan sendiri yang sebagian adalah asli bangsa pribumi.  
Mereka berempat itu adalah :

1.  Raden MAKHDUM IBRAHIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di desa Mbonang, Tuban. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN MBONANG atau Sunan Bonang.  

2.   Raden QOSIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di lamongan dan dikenal dengan nama SUNAN DRAJAT. 

3.   Raden PAKU, putra Maulana ISHAQ yang bermukim di Gresik dan selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN GIRI. 

4.   Raden Mas SAID, putra Adipati Tuban yang bermukim di Kadilangu, Demak. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN KALIJOGO.


Mulai saat itu dan selanjutnya penggantian anggota dewan diambilkan dari kalangan sendiri yang sudah dididik ilmu agama secara baik, sehingga pada akhirnya mulai banyak dari pribumi sendiri yang menjadi anggota dewan.  Nampaknya bersamaan dengan itu, orientasi ajaran islam mulai berubah yaitu dari Arab Sentris menjadi Islam Kompromistis.  Dan pada saat itulah tubuh walisongo mulai terbelah antara kelompok futi`a dan aba`ah atau putihan dan abangan, barangkali pada saat itu pulalah muncul istilah Walisongo.  Isi kitab walisana yang ditulis oleh Sunan Giri  pun yang ditulis pada awal abad 16 banyak berbeda dengan buku-buku sunan Mbonang yang masih menjelaskan ajaran Islam yang murni.

Demikianlah sekelumit perjalanan penyebaran agama islam di tanah jawa yang dimulai dari sembilan utusan dari kesultanan Turki yaitu 
1.  Maulana Malik Ibrahim
2.  Maulana Ishaq 
3.  Maulana Ahmad Jumadil Kubro 
4.  Maulana Muhammad Al Maghrobi  
5.  Maulana Malik Isro'il 
6.  Maulana Muhammad Ali Akbar 
7.  Maulana Hasanudin 
8.  Maulana Aliyuddin 
9.  Syekh Subakir

dilanjutkan oleh Sembilan Wali atau Walisongo yaitu
1.  Sunan Ampel
2.  Sunan Gresik
3.  Sunan Majagung
4.  Sunan Kudus
5.  Sunan Gunung Jati
6.  Sunan Bonang
7.  Sunan Drajat
8.  Sunan Giri
9.  Sunan Kalijogo     

Pada masa Walisongo tersebut masih terdapat dua nama dari angkatan pertama yang masih hidup yaitu Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Al Maghrobi, beliau berdua diperkirakan wafat sekitar tahun 1465 M. 
Pada tahun 1466 M karena dirasa kurang maka anggota dewan menambahkan lagi dua anggota baru ke dalam jajaran anggota dewan, yaitu 

1.  Raden FATAH, putra Raja Majapahit Brawijaya V yang saat itu merupakan Adipati Demak.
2.  FATHULLAH KHAN, putra Sunan Gunung Jati yang dimaksudkan untuk membantu tugas ayahandanya yang sudah berusia lanjut.


dan karena pimpinan dewan Sunan Ampel dianggap telah lanjut usia maka pimpinan dewan diserahkan kepada Sunan Giri.  


Dan pada tahun 1478 M ketika Raden Fatah dinobatkan sebagai Sultan Demak Bintoro maka anggota dewan pun dilakukan perombakan ulang, apalagi saat itu Sunan Gunung Jati  telah lengser karena faktor usia. Nama nama yang kemudian masuk dalam jajaran dewan adalah :
1.  Raden UMAR SAID, putra Sunan Kalijogo yang kemudian lebih dikenal sebagai SUNAN MURIA.
2.  Sunan PANDANARAN, murid Sunan Kalijogo yang bermukim di Tembayat, juga dikenal sebagai SUNAN TEMBAYAT.
 

Menurut kitab walisana karya Sunan Giri, status Sunan Muria dan Sunan Padanaran hanya sebagai wali penerus atau wali nubuah atau wali nukbah.  Dan kitab walisana juga sama sekali tidak pernah menyebut nama Fathullah Khan sebagai anggota walisongo, barangkali hal itu terjadi karena begitu diangkat menjadi anggota walisongo, Fathullah Khan langsung disebut sebagai Sunan Gunung Jati seperti sebutan untuk ayahandanya. 

Wallahu'alam 
 


Demikianlah sedikit kisah sejarah yang bisa saya bagikan disini, semoga bisa bermanfaat untuk saya pribadi dan pengunjung blog catatan pribadi saya ini umumnya.
Dan dibawah ini juga saya sertakan link kajian Bersikap bijak pada ajaran Walisongo yang disampaikan oleh beliau  Al-Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin, Lc   

- Bersikap bijak pada ajaran Walisongo 1
- Bersikap bijak pada ajaran walisongo 2 

seperti biasa jangan lupa klik kanan dan pilih save link like ass....untuk download.

saya Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari

Mohon maaf bila sekiranya ada yang tidak berkenan, tulisan ini disusun ulang dari

  E.A. Indrayana
Pemerhati Sejarah Kerajaan Jawa
Tinggal di Bekasi


dengan Pustaka :
o Hasanu Simon, 2004, Peranan Walisongo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa Dalam Misteri Syekh Siti Jenar, Pustaka Pelajar, Jogjakarta.
o Sulendraningrat, 1984, Babad Tanah Sunda Babad Cirebon.
o Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA, tanpa tahun, Kisah Walisongo, Karya Ilmi, Surabaya.
o Widji Saksono,1995, Mengislamkan Tanah Jawa:Telaah atas Metode Dakwah Walisongo,Penerbit Mizan, Bandung.
o Atmodarminto, R., 2000, Babad Demak;Dalam Tafsir Sosial Politik Keislaman dan Kebangsaan, terjemahan Saudi Berlian, Millenium Publisher, Jakarta. (© Banyu Mili 2009)
Selesai.


dari moslem sunnah