Minggu, 12 April 2015

kebaikan akhlaq pengiring taubat

🌸 PROGRAM Just One Day One Hadith 🌸

👤 - 💿 Ustadz Arif Fathul Ulum. Lc 
🔊 Tasrif Hadits 1 | Taubat, iringilah kebaikan serta akhlaq yang baik

⬇Download Audio 
https://www.dropbox.com/s/dec3olpqb3vr2t3/Fawaid%20hadits%201.mp3?dl=0
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
📝 HADITS 1 
بسم اللّه الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

قال النبي صلى الله عليه وسلم : اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن. رواه الترمذي

Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada dan iringilah kejelekan dengan kebaikan agar kebaikan menghapus kejelekan tersebut dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dalam jamii'nya, dan beliau mengatakan hadits ini hadits yang hasan yang juga dinyatakan shohih oleh para ulama yang lain dan dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-albany dalam shahiih al-jamii' al-shoghir.

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda
اِتَّقِ اللّه حَيْثُمَا كُنْتَ 
" Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada "

Taqwa artinya adalah ittikhodhu bi qoyah min adzabbillah dari kata mengambil wiqoyah perhitungan dari adzab Allah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanallahu wa ta'ala dan menjauhi larangan-laranganNya.

Ini adalah taqwa yang merupakan definisi yang terbagus sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Syaikh Muhammad Utsaimin dan yang lainnya.

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda
اِتَّقِاللّه حَيْثُمَا كُنْتَ  
"Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada"

maknanya yaitu dimanapun engkau berada maka hendaknya engkau bertaqwa kepada Allah, entah dilihat oleh manusia atau tidak dilihat oleh manusia maka sesungguhnya Allah selalu melihatmu dimanapun engkau berada sehingga hendaknya engkau bertaqwa kepadaNya.

Kemudian kembali Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

"dan iringilah kejelekan dengan kebaikan"

yaitu hendaknya setelah melakukan kejelekan segera melakukan kebaikan yang dengan melakukan kebaikan ini semoga kejelekan yang sebelumnya bisa terhapus. 

Dan disebutkan diantara kebaikan setelah kejelekan adalah bertaubat kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala karena taubat adalah kebaikan, bahkan tidak ada kebaikan yang bisa menghapus seluruh kejelekan melainkan taubat, تَمْحُهَا  yaitu bahwa kebaikan akan menghapus kejelekan yang sebagaimana Allah Subhanallahu wa ta'ala berfirman dalam al-quran

......إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُدْهِبْنَ السَّيِّئَاتَ......

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghilangkan kejelekan-kejelekan  
(QS Hud ayat 114)

ini menunjukkan bahwa perintah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika seseorang melakukan kejelekan agar segera dia melakukan kebaikan dan diantara kebaikan yang paling utama setelah melakukan kejelekan adalah bertaubat kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala. 
dan juga secara umum seluruh kebaikan-kebaikan akan menghapus kejelekan-kejelekan yang sebelumnya sebagaimana dalam hadits ini
Firman Allah Subhanallahu wa ta'ala

.......إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُدْهِبْنَ السَّيِّئَاتَ.......

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghilangkan kejelekan-kejelekan.
Qs Hud ayat 114.

Hadits ini merupakan hadits yang agung yang nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam nampak begitu sangat dari semangat beliau untuk mengarahkan umatnya kepada kebaikan dan juga kepada perkara  maslahat, yang baik bagi mereka.

Kemudian dari sini menunjukkan wajibnya bertaqwa kepada Allah Azza Wajalla dimanapun berada, dalam kondisi sendiri maupun di tengah orang banyak, dalam kondisi sembunyi maupun terang-terangan yang mana nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda اِتَّقِ اللّه حَيْثُمَا كُنْتَ  bertaqwalah engkau dimanapun engkau berada.

Kemudian hadits ini juga menunjukkan ketika seseorang melakukan kebaikan setelah melakukan kejelekan, maka kebaikan akan menghapus kejelekan tersebut dan ada kebaikan yang bisa menghapus kejelekan secara keseluruhan yaitu taubat, yang taubat tajubbu ma qoblaha yang akan menghapus kejelekan yang sebelumnya, jika taubat dengan taubat yang mansukh taubat yang sebenarnya taubat yang terpenuhi syarat2nya yaitu 
🌷 ikhlaskan kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala 
🌷 kemudian dia segera meninggalkan kemaksiatan tersebut
🌷 kemudian dia berazzam berniat sungguh2 untuk tidak mengulang dari perbuatannya
🌷 dan kalau berhubungan dengan hak  manusia dia mengembalikan hak tersebut
🌷 dan waktu taubat sebelum ditutup, yaitu sebelum nyawa di tenggorokan atau sebelum matahari terbit dari barat
maka taubatnya akan menghapus seluruh kejelekan yang dilakukan sebelumnya

maka disebutkan bahwa athoifu min adzam kamala dzambalah sesudah bertaubat dan setelah itu seakan-akan dia tak berdosa

Adapun jika kebaikan ini bukan taubat namun amalan kebaikan yang lainnya, maka disebutkan oleh Syekh Muhammad Saleh Utsaimin bahwa ini dengan waazanah yaitu ketika kebaikan ini bisa mengalahkan kejelekan maka bisa hilang dari ashar atau pengaruh kejelekan tersebut.

kemudian dalam hadits ini juga Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar setiap muslim mempergauli manusia dengan akhlaq yang baik dan akhlaq mulia yaitu dengan ucapan yang baik dan dengan perbuatan yang baik dan perintah untik bermuamalah pada manusia dengan akhlaq yang mulia ini bisa hukumnya wajib bisa hukumnya adalah isthitaf.
🌹  yang wajib adalah ketika seseorang melakukan hal-hal yang hendaknya diwajibkan atas dirinya, 
- Yaitu wajibnya dia jujur, wajibnya dia berupaya untuk menghindarkan kebohongan kedustaan
- Wajibnya dia amanah yang adalah hukumnya wajib

🌹 kemudian juga ini bisa mustahat bisa hukumnya sunnah ketika seseorang lebih utama melakukannya meskipun dia tidak berdosa ketika melakukannya ketika meninggalkannya lebih utama kemudian melaksanakannya lebih utama.

kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanallahu wa ta'alla demikianlah dalam hadits yang agung ini Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengumpulkan beberapa hal yang sangat bermanfaat bagi kita semua
🌿 yang pertama adalah bertaqwa kepada Allah dimanapun kita berada, yang dengan taqwa ini kita akan mendapatkan seluruh kebaikan dan dengan taqwa seseorang akan mendapatkan semua yang diinginkan dari apa yang diharapkan dari kebaikan atau apa yang ditakuti dari kejelekan. 
🌿 kemudian juga hendaknya kita segera melakukan kebaikan setelah melakukan kejelekan, bertaubat kemudian juga melakukan kebaikan yang lain
🌿 dan hendaknya kita mempergauli manusia dengan akhlaq yang mulia

inilah yang akan membawa kebaikan bagi kita semua dan semoga Allah Subhanallahu wa ta'alla menjadikan kita semua orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Subhanallahu wa ta'alla yang selalu segera bertaubat kepada Allah dan selalu berbuat kebaikan kemudian juga bisa mempergauli manusia dengan akhlaq yang baik sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya 

akhirul kalam, 
wabillahi taufiq wal hidayah 
khoirul dakwah walhamdulillahi robbil 'alamin

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui WhatsApp 📱 berikut :
081808194040
081911131555

Kamis, 26 Februari 2015

program BISA




بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

 adalah sebuah program yang dicanangkan oleh Abu Razin.  Kalau dulu belajar bahasa arab harus datang ke tempat pertemuan, tatap muka dengan guru dan teman-teman seperjuangan, kini belajar bahasa arab bisa dilakukan hanya dengan bermodalkan smartphone dan koneksi internet. Program BISA (Belajar Ilmu bahaSa Arab) adalah sebuah program Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bahasa arab yang diselenggarakan melalui media Whatsapp. Smartphone android, iPhone, atau lainnya, selama bisa install Whatsapp, dan support tulisan arabic (penting, namun opsional), bisa digunakan sebagai alat untuk belajar.

Sistem belajar Program BISA ini relatif simpel. KBM diselenggarakan dalam waktu 8 minggu, dengan pertemuan seminggu sekali setiap hari ahad pukul 16.00 s.d. 17.30. Materi berupa audio akan diberikan sebelum pertemuan, untuk memberikan kesempatan kepada peserta program agar dapat mendengarkan materi terlebih dahulu. Sementara buku diktat berupa PDF yang disusun Abu Razin tersedia secara gratis untuk diunduh. Memasuki waktu pertemuan, 25 peserta yang dikumpulkan dalam satu grup Whatsapp dipersilakan untuk bertanya kepada pembimbing di grup tersebut mengenai kesulitan-kesulitan atau hal-hal yang belum jelas terkait materi yang telah diberikan sebelumnya. Di penghujung pertemuan, peserta akan diberikan PR hafalan dan PR tulisan yang harus dikumpulkan dalam jangka waktu tertentu. Selesai. Simpel bukan?

Materi yang diberikan di kelas Program BISA merupakan materi dasar bahasa arab. Saat ini, materi yang diberikan baru sebatas pada kaidah dasar shorof. Bukan materi yang berat. Cukup mudah diikuti oleh peserta yang belum mengerti bahasa arab, apapun profesinya, berapa pun usianya. 

Program BISA saat ini telah mengembangkan programnya dengan menambah item-item baru yaitu BINA dimana yang diajarkan adalan ilmu Nahwu secara dasar yang saat ini sudah sampai pada angkatan ke 3, selain itu juga ada JODOH (Just One Day One Hadits) yang merupakan program hafalan hadits-hadits pendek dan direncanakan akan sampai level 12, untuk JODOH ini saat ini sedang sampai angkatan ke 4.  

dengan slogan "belajar bahasa arab nggak harus nyantren" dan sistem yang mudah program ini jadi terus bisa bertahan dan berkembang dengan baik.  Pesertanya pun dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, peserta dari luar negeri pun tidaklah sedikit. itu semua berkat Rahmat dari Allah semata, yang didukung oleh sistem yang berjalan. Dalam pengamatan saya sistem yang ada di dalamnya seperti sistem yang digunakan oleh banyak pondok pesantren modern, salah satunya adalah adanya pengabdian.  Setiap peserta yang telah lulus suatu program atau level program (utk JODOH) maka diharapkan mereka mengabdi sebagai pembimbing kelas berikutnya, demikian seterusnya jenjangnya akan naik. 

program ini pun memiliki fanpage yang berkembang baik, untuk ilmu sharaf fanpage nya a program BISA, sedang untuk hafalan hadits fanpage nya adalah program JODOH.

demikian ulasan yang bisa saya sampaikan, untuk info selanjutnya BISA klik link ini program bisa.

sukses selalu tuk program bisa


Senin, 15 Desember 2014

Perbaiki Sholat - mu



Membaguskan shalat adalah suatu kuwajiban

Dari Abu Hurairah, ia berkata,
“Suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengerjakan shalat, dan setelah selesai beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
يَا فُلَانُ أَلَا تُحَسِّنُ صَلَاتَكَ أَلَا يَنْظُرُ الْمُصَلِّي كَيْفَ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ إِنِّي أُبْصِرُ مِنْ وَرَائِي كَمَا أُبْصِرُ بَيْنَ يَدَيَّ
‘Wahai Fulan, kenapa engkau tidak membaguskan shalatmu? Kenapa orang yang shalat itu tidak mau intropeksi bagaimana ia mengerjakan shalat untuk dirinya? Sesungguhnya aku mampu melihat dari belakangku seperti aku melihat melalui depanku’..”

Dalam riwayat lain:
“Rasulullah shalat zhuhur mengimami kami, setelah salam beliau memanggil seorang laki-laki yang ada di shaf terakhir, beliau bersabda,
يا فلان ، ألا تتقي الله !؟ ألا تنظر كيف تصلي ؟! إن أحدكم إذا قام يصلي إنما يقوم يناجي ربه … فلينظر كيف ينجيه ! إنكم ترون أني لا أ راكم ، إني و الله لأرى من خلف ظهري ، كما أرى من بين يدي
‘Wahai fulan, tidakkah kamu bertakwa kepada Allah. Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana kamu shalat? Sesungguhnya salah seorang dari kalian jika dia berdiri shalat, dia berdiri bermunajat kepada Rabbnya maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana dia bermunajat kepadaNya, sesungguhnya kalian beranggapan aku tidak melihat kalian. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat di belakang punggungku seperti aku melihat di depanku’.”

Dan juga riwayat beliau yang lain:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى مَا وَرَائِي كَمَا أَنْظُرُ إِلَى مَا بَيْنَ يَدَيَّ فَسَوُّوا صُفُوفَكُمْ وَأَحْسِنُوا رُكُوعَكُمْ وَسُجُودَكُمْ
“Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang ada di belakangku sebagaimana aku dapat melihat apa yang ada di depanku, maka luruskanlah barisan shalatmu serta perbagus ruku’ dan sujud kalian.”
(Shahiih; Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, an-Nasaa-iy, Ibnu Khuzaimah dalam shahiihnya, al-Hakim dalam shahiihnya; dan selainnya)

An-Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim,
“Para ulama berkata,
‘Maknanya adalah bahwa Allah menciptakan untuk Nabi daya kemampuan untuk mengetahui di tengkuknya yang dengannya dia melihat di belakangnya. Dan mukjizat terjadi pada Nabi lebih dari ini dan tidak ada bukti akal dan syara’ yang menolak ini bahkan syara’ datang menjelaskannya secara zhahir, maka ia harus diyakini.”

Al-Qadhi berkata,
“Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama berkata, ‘Penglihatan Nabi ini adalah penglihatan dengan mata kepala secara hakiki.”

Mengapa shalat harus dibaguskan, hal ini disebabkan  Jika shalat tidak diterima, maka amalan yang lain pun tidak diterima

Dari Abu Hurrayrah, Rasulullah bersabda:
الصلاة ثلاثة أثلاث : الطهور ثلث ، والركوع ثلث ، والسجود ثلث ، فمن أداها بحقها قبلت منه وقبل منه سائر عمله ومن ردت عليه صلاته رد عليها سائر عمله
“(Hak) shalat itu ada tiga bagian, bersuci sepertiga, ruku’ sepertiga dan sujud sepertiga. Barangsiapa melaksanakan dengan memenuhi haknya, maka shalat tersebut diterima darinya dan sisa amalnya yang lain juga diterima. Barangsiapa yang shalatnya ditolak (karena tidak memenuhi haknya), maka sisa amalnya yang lain ditolak.”

[Diriwayatkan oleh al-Bazzar, d a n d ia berkata, "Kami tidak mengetahuinya diriwayatkan secara marfu' kecuali dari hadits al- Mughirah bin Muslim." (Al-Hafizh berkata), "Sanadnya hasan." HN. 539 dalam shahiih at targhiib wat tarhiib]

Lalu bagaimanakah shalat yang bagus tersebut 

dari [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu

bahwa (ia menceritakan bahwa ada) seorang laki-laki memasuki masjid, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah duduk di pojok masjid, kemudian laki-laki itu mengerjakan shalat. Seusai shalat ia datang menemui beliau sambil mengucapkan salam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:
وَعَلَيْكَ السَّلَامُ فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
“Wa’alikas salam, Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat! ‘
lalu ia kembali lagi dan mengulangi shalatnya.

Seusai shalat ia datang lagi sambil mengucapkan salam dan beliau bersabda:
وَعَلَيْكَ السَّلَامُ فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
“Wa’alaikas-salam. Kembali dan ulangi lagi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat! ‘

Lalu orang tersebut berkata ketika disuruh mengulangi yang kedua kali atau setelahnya;
“Ajarilah aku wahai Rasulullah!”

Dalam riwayat lain disebutkan:
‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik selain daripada ini, ajarkanlah kepadaku.’

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Beritahukan dan ajarilah aku, karena aku hanyalah manusia biasa, kadang benar dan kadang salah, ”

Selanjutnya beliau bersabda:
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
‘Jika kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudlu’, lalu menghadap ke arah Kiblat, setelah itu bertakbirlah, kemudian bacalah Al Qur’an yang mudah bagimu. Kemudian ruku’lah hingga kamu benar-benar ruku’ dan bangkitlah dari ruku’ hingga kamu berdiri tegak. Lalu sujudlah kamu hingga kamu benar-benar sujud, dan bangkitlah hingga kamu benar-benar duduk, setelah itu sujudlah hingga kamu benar-benar sujud, lalu bangkitlah hingga kamu benar-benar duduk, dan Kerjakanlah semua hal tersebut pada setiap shalatmu.”

[Abu Usamah] mengatakan di akhir haditsnya;
‪…‬حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا
“Sehingga kamu benar-benar berdiri.”

dalam riwayat Abu dawud ditambahkan:
فَإِذَا فَعَلْتَ هَذَا فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُكَ وَمَا انْتَقَصْتَ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَإِنَّمَا انْتَقَصْتَهُ مِنْ صَلَاتِكَ
“Jika kamu melakukan seperti ini, maka shalatmu menjadi sempurna, dan apabila kamu mengurangi dari cara ini, berarti kesempurnaan shalatmu juga akan terkurangi.”


Ketika seseorang tidak menyempurnakan shalatnya sesungguhnya dia bagaikan seorang pencuri, bahkan lebih buruk daripada itu karena Pencuri yang paling buruk adalah orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya (shalatnya)

Dari Abu Qatadah berkata, Rasulullah bersabda,
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاتِهِ
“Orang paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri dari shalatnya.”

Mereka bertanya,
“Ya Rasulullah, bagaimana dia mencuri dari shalatnya?”
Rasulullah menjawab,
لا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلا سُجُودَهَا
“Dia tidak menyempurnakan ruku’- nya tidak pula sujudnya,”

-atau beliau bersabda-
لا يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
“Tidak menegakkan tulang punggungnya dalam ruku’ dan sujud-.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabrani dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya dan al-Hakim, dan dia berkata, “Sanadnya shahih.”; hadits ini juga dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; no. 524)

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,:
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلاتَهُ
“Orang yang paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri shalatnya.”

Dia berkata,
“Bagaimana dia mencuri shalatnya?”
Beliau menjawab,
لا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلا سُجُودَهَا
“Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan tidak pula (menyempurnakan) sujudnya.”
(Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu ‘jam al-Ausath, Ibnu Hibban dalam Shahihnya dan al-Hakim dan dia menshahih- kannya. dihasankan oleh al-albaaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; HN. 533)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Yahya bin Sa'id] dari [Nu'man bin bin Murrah], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya:
مَا تَرَوْنَ فِي الشَّارِبِ وَالسَّارِقِ وَالزَّانِي وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُنْزَلَ فِيهِمْ
“Apa pendapat kalian tentang peminum, pencuri dan pezina?”
pada saat itu belum turun ayat kepada mereka yang menjelaskan tentang hal itu.

Mereka menjawab;
“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau bersabda:
هُنَّ فَوَاحِشُ وَفِيهِنَّ عُقُوبَةٌ وَأَسْوَأُ السَّرِقَةِ الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ
“Semua itu adalah perbuatan keji dan di dalamnya terdapat hukuman. Sejelek-jelek pencuri ialah orang yang mencuri dalam shalatnya.”

Mereka bertanya;
“Wahai Rasulullah, bagaimana seorang mencuri shalatnya?”
Beliau menjawab:
لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا
“Dia tidak menyempurnakan rukuknya dan sujudnya.”
(HR. Maalik; Shahiih Lighairihi sebagaimana dikatakan syaikh al-albaaniy dalam at-targhiib wat tarhiib HN. 534)

Syaikh al-Albaniy berkomentar terhadap hadits ini:
An-Nu’man ini adalah seorang tabiin besar. Dikatakan di at-Taqrib, “…dia adalah seorang al-Anshari az- Zuraqi al-Madani, tsiqah dari tingkatan kedua. Dan keliru orang yang menganggapnya sahabat.” Dari sini semestinya penulis mengisyaratkan dengan ucapannya setelah dia mentakhrijnya,
‘hadits ini mursal’, sebagai- mana itu adalah kebiasaannya dalam hadits-hadits senada agar tidak dipahami secara salah bahwa dia adalah sahabat seperti yang dilakukan oleh Imarah dalam cetakannya di mana dia menambahkan, yang justru membuatnya semakin kabur. Akan tetapi hadits ini didukung oleh hadits sebelumnya. Ibnu Abdul Bar di at-Tamhid berkata 23/409,
“Para rawi dari Malik tidak berbeda pendapat bahwa ia mursal. Ia adalah hadits shahih yang dikuatkan dari beberapa jalan periwayatan di antaranya dari hadits Abu Hurairah dan hadits Abu Said.”

Kemudian dia menurunkan sanad keduanya. Dan hadits Abu Hurairah telah hadir sebelum ini.
Dari Abdullah bin Mughaffal dia berkata, Rasulullah bersabda:
أَسْوَأُ النَّاسِ الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ
“Pencuri terburuk adalah yang mencuri shalatnya.”

Rasulullah ditanya,
“Ya Rasulullah, bagaimana mencuri shalatnya?”
Beliau menjawab,
لا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَ سُجُودَهَا
“Tidak menyempurnakan ruku ‘dan sujudnya.”
و أَبْخَلَ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلامِ
“Dan orang yang terkikir adalah yang kikir terhadap salam.”

(Diriwayatkan oleh ath-Thabrani di ketiga Mu ‘jamnya dengan sanad baik (jayid). hadits ini juga dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; no. 525)

Mengapa ruku' dan sujud harus sempurna, karena Allah TIDAK MENERIMA SHALAT orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً وَلا يَقْبَلُ اللَّهُ لَهُ صَلاةً
Sesungguhnya seseorang melaksanakan shalat selama ENAM PULUH TAHUN, akan tetapi TIDAK SATUPUN shalatnya diterima Allah…
لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ ، وَلا يُتِمُّ السُّجُودَ
Disebabkan karena ia tidak menyempurnakan ruku’ atau tidak menyempurnakan sujud…
(HR Abul Qasim ashbahaniy, dan selainnya: dihasankan oleh Syaikh al albaaniy [lihat ash shahiihah dan shahiih at targhiib wat tarhiib])





disusun ulang dari berbagai sumber oleh :
Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Moebari bin Taslim 

Kamis, 27 November 2014

I B U







Bagaimana jadinya seorang anak bisa dilihat bagaimana cara mendidik orangtua nya, bagaimana orangtua memberikan teladan, dan bagaimana hubungan orangtua dengan Sang Khalik.
Lihatlah bagaimana ibu dari Imam Asy-Syafii Rahimahullah, ibu dari imam Ibn Katsir Rahimahullah yang semenjak beliau dalam kandungan sang ibu selalu melantunkan ayat-ayat Allah, lihat ibu dari Syeh Bin baz Rahimahullah yang setia mengantarkan anaknya mendatangi majlis ilmu. 
Dan berikut ini bagaimana salah satu sikap dari ibu Asy-Syaikh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menerima surat dari anaknya yang sedang dipenjara dan menyampaikan permohonan maaf disebabkan jauhnya beliau dari sang ibu serta waktu yang lama beliau tinggal di kota Mesir :


Inilah yang beliau katakan :

" Anakku yang tercinta, yang kuridhai Ahmad bin Taimiyah ; 
wa 'alaika assalam warahmatullahi wa barakatuh wa maghfiratuh wa ridhwanuh.

Sesungguhnya, Demi Allah untuk yang seperti inilah aku mendidikmu sejak kecil, dan demi menolong agama Islam dan kaum muslimin aku mempersembahkanmu dan demi Syari'at agamu aku mengajarkan ilmu kepadamu. 

Dan jangan engkau mengira kedekatanmu dariku lebih aku cintai dari kedekatanmu terhadap agamamu dalam rangka engkau menolongnya beserta kaum muslimin diseluruh penjuru dunia... 

Bahkan, ketahuilah wahai anakku, keridhaanku kepadamu itu kembali pada sejauh mana engkau menolong agama Allah dan kaum muslimin. 
Dan esok di hari kiamat aku tak akan menuntutmu di hadapan Allah karena jauhnya engkau dariku, karena aku tahu dimana dan apa yang engkau lakukan...


Bahkan wahai anakku Ahmad !,

aku akan menuntutmu di hadapan Allah ketika engkau lalai menolong agama Allah dan pengikutnya kaum muslimin. 

Semoga Allah senantiasa meridhaimu wahai Anakku, menerangi perjuangan dan meluruskan setiap langkahmu, dan semoga Allah mengumpulkan kita di bawah naungan 'ArsyNya dimana tiada naungan selain naunganNya.


Wasaalamu alaikum warahmatullah wa barakatuh

(majmu' fatawa 28/48)


Sebuah contoh bagaimana seharusnya kita sebagai orangtua, bagaimana kita harus mendidik anak.  Dan menjadikan diri ridho atas segala perbuatan baik anak sehingga mendatangkan pula ridho dari Allah




 disusun sarikatakan kembali oleh
Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               

Senin, 24 November 2014

"T A M U" sebuah penginapan


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

Man yahdihillahu fa laa yudhillalahu ma wan yudhlil fa laa haadiyalahu. 

Sesungguhnya barangsiapa diberi petunjuk Allah عزّوجلّ maka tidak ada satu orang pun manusia yang akan dapat menyesatkan dia, walau beribu preman datang untuk menyesatkan dan memindahkan langkahnya dari jalan kebenaran maka langkahnya tidaklah akan tergerakkan, kecuali bila Allah mengijinkannya.  

Dan Sebaliknya barangsiapa yang tersesat dalam kehidupan ini, maka tidak ada satu pun ustadz orang alim ataupun yang sudah memiiki gelar Syech sekalipun dapat mengembalikan dia kepada hidayah kecuali Allah عزّوجلّ mengijinkannya


Maka sudah sepatutnyalah kita senantiasa memohon kepada Allah عزّوجلّ , agar diri ini senantiasa dilimpahkan Rahmat taufiq Hidayah serta Innayah Nya agar selalu berada dijalan orang-orang yang terselamatkan.

 

 

Semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada beliau Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga yaumul kiamat kelak.

 

Cermatilah dengan seksama untaian nasehat bijak dibawah ini,

Aku akan menggambarkan kepadamu bahwa dunia ini adalah satu masa di antara dua masa yang lain. Satu masa telah lampau, satu masa akan datang, dan satu masa lagi saat dimana engkau hidup sekarang.

Adapun masa lampau dan yang akan datang, tidaklah memiliki kenikmatan dan juga tidak ada rasa sakit yang bisa dirasakan sekarang.

Tinggallah dunia ini saat dimana engkau hidup sekarang ini.

Saat itulah yang sering memperdayamu hingga lupa dengan akhirat, dan perjalanan yang bisa mengantarkanmu menuju neraka.

Sesungguhnya hari ini – bila engkau mengerti – ibarat tamu yang mampir ke rumahmu dan akan segera pergi meninggalkan rumahmu.
Apabila engkau memberi penginapan yang baik dan menghormatinya, ia akan menjadi saksi atas dirimu, memujimu, dan berbuat benar untuk dirimu.

Akan tetapi bila engkau memberi penginapan yang jelek, melayaninya dengan kasar, maka ia akan terus terbayang di depan matamu.

Hari ini dan hari esok bagaikan dua orang bersaudara yang masing-masing bertamu kepadamu secara bergantian. Ketika yang pertama singgah, engkau bersikap jelek kepadanya dan tidak memberikan pelayanan yang baik antara engkau dan dia. Lalu di hari kemudian saudaranya yang akan berkata : “Sesungguhnya saudaraku telah engkau perlakukan buruk. Sekarang aku datang setelahnya. Bila engkau melayaniku dengan baik, niscaya engkau dapat membayar perlakuan burukmu terhadap saudaraku, dan aku akan memaafkan apa yang telah engkau perbuat (terhadap saudaraku). Maka cukuplah engkau memberi pelayanan kepadaku apabila aku singgah dan menemuimu setelah kepergian saudaraku tadi. Dengan itu engkau telah mendapat keuntungan sebagai gantinya bila engkau mau berpikir. Gapailah apa yang telah engkau sia-siakan.

Bila yang datang kemudian engkau perlakukan seperti sebelumnya, alangkah meruginya hidupmu di dunia akibat persaksian keduanya atas kejahatanmu. Sisa umurmu tidak akan berguna dan berharga lagi.

Apabila engkau kumpulkan dunia seluruhnya, tidak akan dapat menggantikannya meskipun hanya satu hari yang tersia-siakan. Maka, janganlah engkau jual hari ini, dan jangan engkau ganti hari ini dengan dunia tanpa faedah yang berharga. Janganlah sampai terjadi, bahwa orang yang telah dikubur saja lebih menghargai apa yang ada di hadapanmu daripada dirimu sendiri, padahal semua itu milikmu.

Demi Allah, apabila orang yang telah dikebumikan itu ditanya : ‘Ini dunia beserta seisinya, dari awal sampai akhirnya, yang bisa engkau pergunakan untuk anak cucumu setelah kematianmu, agar mereka dapat berfoya-foya, yang keinginanmu hanyalah mereka; dan ini satu hari yang disediakan untukmu yang dapat engkau gunakan untuk beramal bagi dirimu” – manakah yang engkau pilih ? Tentu ia akan memilih satu hari yang terakhir. Tidak ada sesuatu yang dapat diperbandingkan dengan satu hari itu, melainkan ia pasti memilih hari itu karena kesukaannya dan penghormatannya terhadap hari itu.

Bahkan apabila hanya dicukupkan satu jam, untuk diperbandingkan dengan berkali-kali lipat dari apa yang telah kita paparkan tadi; pasti ia juga akan memilih yang satu jam tadi.

Meskipun dengan segala yang kita sebutkan dengan berbagai kelipatannya diberikan kepada orang lain. Bahkan apabila ia diberikan (pahala) satu kata yang ia ucapkan, untuk diperbandingkan dengan berlipat-lipat dari yang disebutkan tadi, pasti ia akan memilih satu kata itu.

Maka mulailah hari ini ! Cermatilah hari-harimu untuk kemaslahatanmu.
Cermatilah meski hanya satu jam ! dan hormatilah meski hanya satu kata.

Waspadailah kehinaan yang datang di akhir kehidupanmu. Janganlah engkau merasa aman untuk tidak dibantah oleh ucapanmu sendiri. Semoga nasihat ini berguna buatmu dan buat kami sendiri. Semoga Allah memberikan rizki kepada kita dengan akhir kehidupan yang baik.

As-Salaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabatakaatuh”.

[Diambilkan dari kitab Hilyatul-Auliyaa’ 2/39 yang ditulis oleh Abu Nu’aim Al Ashfahaniy]


Sebuah nasihat bijak dari seorang Hasan al-Bashri rahimahullah



dicoba susun sarikata kan ulang oleh
Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari (Abu Miriam Aslam Hasanah)
Wonoayu, 3 Shaffar 1436 H  atau bertepatan 25 - 11- 2014

Rabu, 19 November 2014

Jalan Rizqi

 

pic courtesy google

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

Innal hamda lillahi, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu. 
Sungguh segala puji adalah kepunyaan Allah
عزّوجلّ semata, yang kita senantiasa akan memuja dan memuji-Nya, dan memohon berharap pertolongan hanya kepada-Nya serta memohon ampun atas dosa-dosa yang kita lakukan.

Wa na’udzubillahi min suruuri anfusinaa wa min sayyi’ati a’malina.  
Dan kita memohon perlindungan kepada Allah Tabaroka Ta'alla dari kejahatan jiwa kita dan keburukan daripada amal perbuatan kita. 

Man yahdihillahu fa laa yudhillalahu ma wan yudhlil fa laa haadiyalahu.
 

Sesungguhnya barangsiapa diberi petunjuk Allah عزّوجلّ maka tidak ada satu orang pun manusia yang akan dapat menyesatkan dia, walau beribu preman datang untuk menyesatkan dan memindahkan langkahnya dari jalan kebenaran maka langkahnya tidaklah akan tergerakkan, kecuali bila Allah mengijinkannya.  Dan Sebaliknya barangsiapa yang tersesat dalam kehidupan ini, maka tidak ada satu pun ustadz orang alim ataupun yang sudah memiiki gelar Syech sekalipundapat mengembalikan dia kepada hidayah kecuali Allah عزّوجلّ mengijinkannya

 

Asyhadu anla ilaaha illAllah wah dahu lasyarikallah Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa Rasuulullah   

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan tidak ada yang pantas mendapatkan pengabdian kita serta tiada yang layak mendengar do'a dan rintihan kita selain daripada Allah semata, Dia Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus ke muka bumi ini untuk menancapkan pilar-pilar Tauhid dan mengajarkan kepada umat syariat Allah.   

 

Semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada beliau Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga yaumul kiamat kelak.

 

Pernahkah terbersit dalam fikir kita, bagaimanakah sesungguhnya metode pembagian rizqi dari Allah...?  Ataukah kita hanya sekedar bekerja dan bekerja saja guna menjemput rejeki tanpa memikirkan kiat bagaimana agar dia bisa bertambah......

Maka bila ada ingin maka langkah awal yang harus kita ketahui adalah metode pembagian rejeki itu sendiri.

 

 

Pertama sesungguhnya rejeki tiap mahluk telah dijamin oleh Allah Tabaroka Ta'ala

 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚكُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melatapun (termasuk manusia) di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) 

{QS al-Huud ayat 6}

 

Bila kita mau memahami makna dari ayat diatas, maka tidaklah kita akan pernah khawatir perihal rejeki, karena sesungguhnya semua telah dijamin dan takkan keliru karena Allah Maha Mengetahui walau dimana kita berada atau bersembunyi maka rejeki itu telah ditetapkan dan akan tersampaikan pada tiap-tiap mahluk sebagaimana yang tertuliskan dalam kitab Lauh Mahfuzh.

 

Hal ini juga sejalan dengan ayat Allah lainnya

مَا يَفْتَحِ الَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖوَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚوَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 

{QS Al-Fathir ayat 2}

 

Jadi rejeki tak akan pernah kemana-mana bila memang itu sudah jatah dan mili seseorang. Namun kita sebagai mahluk tetaplah diwajibkan untuk usaha, dan inilah jalan berikutnya

 

Kedua rejeki akan diberikan sesuai dengan usaha masing-masing.

 

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

{QS An-Najm ayat 39}

 

Setiap mahluk yang ada di bumi memang sudah mendapat jatah rejeki, namun bila diam termenung di tempatnya ataupun hanya berdoa tengadah memohon kepada Allah maka rejeki yang didapat akan berbeda dengan mereka yang beranjak pergi menjemput rejekinya.

 

Seekor buaya hanya akan mendapat jatah hewan yang berlalu dihadapannya bila dia hanya berdiam di sarangnya, sedangkan yang berburu akan mendapat sesuai keinginannya, bila dia ingin makan kuda dan itu memang sudah rejekinya maka akan didapatinya. 

 

Perhatikan ayat berikutnya,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ الَّهِ وَاذْكُرُوا الَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

{QS Al-Jumuah ayat 10}

 

Ketiga rejeki akan diberikan kepada yang bersyukur

 

     وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖوَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
  

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". 

{QS Ibrahim ayat 7}

 

Ini adalah salah satu bentuk sayangnya Allah kepada mahluk, dan sungguh mereka yang pandai bersyukur  maka akan didapatlah rejeki yang lebih banyak, dan itu janji Allah.

 

Mereka yang pandai bersyukur dalam segala keadaannya maka yang didapat ada rasa cukup atas segala kebutuhan dunianya, hidupnya akan senantiasa merasa bahagia, hatinya akan terasa tentram dan keluarganya akan sejahtera.

 

Keempat rejeki yang teristimewa untuk orang-orang khusus

 

Ya, yang ini adalah rejeki teristimewa dan semua orang bisa serta berhak untuk mendapatkannya.  Namun dia haruslah seseorang yang benar besar kecintaannya kepada Allah, sehingga Allah akan senantiasa mencukupkan segala kebutuhannya, memberikan jalan keluar segala permasalahannya dan akan senantiasa mendatangkan rizki dari jalan yang tak diduga-duga.

 


  ۚوَمَنْ يَتَّقِ الَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚوَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى الَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚإِنَّ الَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚقَدْ جَعَلَ الَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

  Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

{QS  Ath-Thalaq 2 - 3}

 

 Demikianlah rejeki Allah akan sampai kepada kita, maka jemputlah ia.

 

Semoga bermanfaat 

 

 

Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Moebari

Wonoayu, 27 Muharram 1436 H (20-11-14)

  

Sabtu, 01 November 2014

MUHRIM.....????



Seringkali kita mendengar bahkan kita sendiri mengatakan, muhrim....muhrim....kamu muhrimku jadi haram dinikahi.....
Sesungguhnya apa sih makna dari muhrim itu sendiri 
Muhrim: Muhrim (مُحْرِمُ) adalah isim fa'il dari أحْرَمَ -يُحْرِمُ Maknanya adalah Melakukan Ihram, jadi isim failnya artinya orang yang melakukan ihram untuk haji atau umroh. Biasanya ketika kata tersebut disambung dengan haji dan umroh maka ia ditambahi huruf jar Bi.

Lha.....salah dong anggapan selama ini, lantas yang haram untuk dinikahi itu namanya apa....???
As-Syaikh Utsaimin Rahimahullah mengatakan  bahwa siapa saja yang diharamkan selamanya menikahi atau dinikahi seseorang, baik keharaman itu dikarenakan kekerabatan, persusuan dan pernikahan (seperti ayah/ibu mertua.pent) adalah disebut Mahram   lihat Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 24/422, Dar al-Wathon wa dar Ats-Tsuroyya

Jadi kalo Mahram walau mirip kata Ihrom bukan berarti ada hubungannya dengan Ihrom atau Haji.

Maka sesungguhnya Mahram dan Muhrim sungguh jauh bedanya, oleh karenanya hati-hati dalam mengartikannya jangan keliru apalagi terbalik, sebagaimana contoh kasus ada yang pernah menyatakan bahwa mahram dapat diwakili oleh pembimbing haji atau salah satu peserta. naudzubillahi min dzalik.

Dan kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dari Mahram adalah
  • Boleh melihat wajah, tangan dan kepala
  • diperbolehkan salaman 
  • Tidak diperbolehkan menikah
Sedangkan kaidah-kaidah untuk nonMahram atau selain Mahram adalah
  • Diwajibkan menundukkan pandangan
  • Tidak boleh bersalaman
  • Tidak boleh Khalwat (berduaan)
  • Diperbolehkan untuk Menikah
  •     
maka mulai sekarang fahami dengan benar, dan berikut adalah skema hubungan Mahram

Perhatikan firman Allah Subhanallahu Wata'ala berikut
 
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ للاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, {QS An-Nisaa' ayat 23}