Kamis, 16 Oktober 2014

sebuah KONSER HATI



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Setiap malam sebelum tidur dia selalu menemaniku hingga tertidur, dia sungguh membuaiku membuat seakan melayang terlena memasuki tidurku yang paling dalam dan membawakan mimpi-mimpi yang seakan nyata.  Dan ketika bangun di pagi hari, berteriak membahana seakan memberikan semangat agar aku bergegas agar tak tertinggalmenuju sekolah.  Ya itulah dia yang selalu menyertai ku, bahkan dalam perjalanan ke sekolah atau pun ketika belajar menyimak kembali pelajaran ketika di rumah, dia selalu menyertai.  Bahkan ketika aku mulai mengenal lawan jenis dia menyertaiku..............

namun kini..........Sungguh segala puji adalah milik Allah, kita senantiasa memuja dan memuji-Nya, memohon pertolongan hanya kepada-Nya dan memohon ampun atas dosa-dosa yang kita lakukan.  Dalam suatu saat tersampaikan ke telinga ku sebuah kisah dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al Ufi dari Ibnu Abbas tentang seorang Quraisy yang membeli seorang biduanita untuk dijadikan sebagai alat menyesatkan manusia.  Dan juga dari sebuah hadits lain yang senada diriwayatkan oleh Juwaibir dari Ibnu Abbas yang berkisah tentang seorang Quraisy bernama an Nadhr bin al Harts yang membeli seorang biduanita apabila dia mendengar berita seseorang akan masuk Islam, lalu dia akan mengajak orang tersebut datang kepada biduanita itu dan menyuruh biduanita itu menyediakan makanan dan minuman serta merayunya dengan alunan suaranya. Kemudian an Nadhr berkata kepada orang yang dibujuk itu: "Ini adalah lebih baik daripada ajakan Muhammad yang hanya menyuruh sembahyang, puasa dan berperang untuk kemenangan dirinya."  Kemudian dijelaskan kepadaku bahwa itu adalah sebab diturunkannya surat Luqman ayat 6

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ الَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. 

Dalam Tafsir Ath-Thabari, beliau Ibnu Jarir Ath-Thabari-rahimahullah- mengatakan bahwa para pakar tafsir berselisih pendapat apa yang dimaksud dengan لَهْوَ الْحَدِيثِlahwal hadits” dalam ayat tersebut, sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah nyanyian dan mendengarkannya. Lalu setelah itu Ibnu Jarir menyebutkan beberapa perkataan ulama salaf mengenai tafsir ayat tersebut. Di antaranya adalah dari Abu Ash Shobaa’ Al Bakrirahimahullah-. Beliau mengatakan bahwa dia mendengar Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu- berkata,


الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.
Yang dimaksud adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali.
 Dan beliau Rahimhullah dengan panjang lebar menjelaskan :
"Yang dimaksud dengannya (perkataan yang tidak berguna) adalah semua perkataan yang melalaikan dari jalan ALLAH dari apa-apa yang dilarang ALLAH dari mendengarkannya atau apa-apa yang dilarang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (dari mendengarkannya), karena ALLAH menjadikan firmannya (perkataan tidak berguna) umum dan tidak mengkhususkan sebagian yang satu dari sebagian yang lain. Oleh karena itu tetap berlaku umum sehingga datang dalil yang mengkhususkannya. Nyanyian dan syirik termasuk dari itu (perkataan tidak berguna)."


Dalam Tafsirnya Ibn-Katsir, beliau Rahimahullah menyebutkan makna perkataan yang tidak berguna sebagai "nyanyian" dan ini dari Sa'id bin Jubair, Makhul, 'Amru bin Syu'aib, Hasan al-Bashri dan 'Ali bin Badzimah dari kalangan para tabi'in. Beliau juga mengomentari ALLAH menyambung dengan menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka yaitu orang -orang yang berpaling dari mengambil manfaat dengan mendengarkan kalam ALLAH dan malah cenderung mendengarkan lagu-lagu, nyanyian dengan nada-nada tertentu dan alat-alat musik.


Al-Baghawi menyebutkan perkataan Ibrahim An-Nakha'i (Tabi'in):
bahwa "Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati".   



Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Lahwal hadits adalah segala sesuatu yang melalaikan seseorang dari berbuat baik. Hal itu bisa berupa nyanyian, permainan, cerita-cerita bohong dan setiap kemungkaran.” 
Lalu, Asy Syaukani menukil perkataan Al Qurthubi yang mengatakan bahwa tafsiran yang paling bagus untuk makna lahwal hadits adalah nyanyian.
 

Imam Al-Qurthubi pun menyampaikan panjang lebar dalam tafsirnya 
 

وَهُوَ الْغِنَاء الْمُعْتَاد عِنْد الْمُشْتَهِرِينَ بِهِ , الَّذِي يُحَرِّك النُّفُوس وَيَبْعَثهَا عَلَى الْهَوَى وَالْغَزَل , وَالْمُجُون الَّذِي يُحَرِّك السَّاكِن وَيَبْعَث الْكَامِن ; فَهَذَا النَّوْع إِذَا كَانَ فِي شِعْر يُشَبَّب فِيهِ بِذِكْرِ النِّسَاء وَوَصْف مَحَاسِنهنَّ وَذِكْر الْخُمُور وَالْمُحَرَّمَات لَا يُخْتَلَف فِي تَحْرِيمِهِ ; لِأَنَّهُ اللَّهْو وَالْغِنَاء الْمَذْمُوم بِالِاتِّفَاقِ .

Nyanyian yang dimaksud adalah nyanyian yang biasa dinyanyikan menurut orang-orang yang mempopulerkannya. Yaitu nyanyian yang yang menggerakkan nafsu dan membangkitkannya atas hawa dan cumbu rayu dan kelakar (lawak) yang akan menggerakkan yang diam dan mengeluarkan yang tersembunyi (muncul aib-aib). Jenis ini apabila di dalam sya'ir akan mengobarkannya dengan menyebutkan wanita dan sifat-sifat kecantikannya, menyebutkan khamr dan hal-hal yang diharamkan di mana tidak ada beda pendapat tentang keharamannya. Karena itu adalah sia-sia dan nyanyian adalah tercela dengan kesepakatan.


فَأَمَّا مَا سَلِمَ مِنْ ذَلِكَ فَيَجُوز الْقَلِيل مِنْهُ فِي أَوْقَات الْفَرَح ; كَالْعُرْسِ وَالْعِيد وَعِنْد التَّنْشِيط عَلَى الْأَعْمَال الشَّاقَّة , كَمَا كَانَ فِي حَفْر الْخَنْدَق
Sedangkan nyanyian yang selamat dari hal tersebut maka sedikit dari itu adalah boleh di dalam masa-masa bergembira seperti pernikahan, hari raya dan ketika digunakan untuk menyemangati beramal yang berat sebagaimana saat menggali parit ...


فَأَمَّا مَا اِبْتَدَعَتْهُ الصُّوفِيَّة الْيَوْم مِنْ الْإِدْمَان عَلَى سَمَاع الْمَغَانِي بِالْآلَاتِ الْمُطْرِبَة مِنْ الشَّبَّابَات وَالطَّار وَالْمَعَازِف وَالْأَوْتَار فَحَرَام .

Sedangkan apa yang dibuat-buat oleh orang-orang shufi pada hari ini (zaman al-Qurthubi) dengan membiasakan atas mendengarkan nyanyi-nyanyian dengan alat-alat musik seperti syabaabaat, thaar, ma'azif, autaar (nama-nama alat musik dipukul, dipetik dlsb) adalah haram.



imam Al-Qurthubi memberikan beberapa penukilan pendapat para imam mazhab:

Imam Malik bin Anas pernah ditanya tentang nyanyian yang dibolehkan oleh sebagian orang-orang di Madinah, beliau menjawab: Yang melakukan itu menurut kami hanyalah orang-orang fasiq.
 

Madzhab Abu Hanifah adalah membenci nyanyian dan beliau menganggap bahwa mendengarkan nyanyian termasuk dosa.

Begitu pula madzhab seluruh penduduk Kufah: Ibrahim (an-Nakha'i), Asy-Sya'bi, Hammad, Ats-Tsauri dan selainnya, tidak ada beda pendapat di antara meraka dalam hukum nyanyian.


imam Syafi'i beliau berkata: Nyanyian adalah dibenci dan menyerupai hal yang bathil dan barang siapa memperbanyaknya maka dia orang bodoh yang ditolak persaksiannya. 


Sedangkan madzhab Ahmad tidak ada keterangan tegas tentang hal tersebut, namun ketika ditanya tentang seseorang yang meninggal dan meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang budak perempuan penyanyi. Si anak ingin menjual budaknya. imam Ahmad menjawab: budak perempuan dijual sebagai budak biasa bukan sebagai budak yang penyanyi. Ada yang berkata: harganya bisa sampai 30 ribu, boleh jadi kalau dijual sebagai budak biasa hanya 20 ribu. imam Ahmad menjawab: tidak boleh dijual kecuali sebagai budak biasa.

dalam hal ini Ibnu al-Jauzi mengomentari:

Ahmad berkata seperti ini karena budak perempuan ini penyanyi dan tidak bernyanyi dengan qashidah zuhud tapi dengan sya'ir-sya'ir musik yang membangkitkan cinta.

Ini adalah dalil atas nyanyian adalah dilarang di mana kalau tidak dilarang maka tidak boleh menghilangkan harta anak yatim (lihat dan fahami kasus di atas). 



imam Ath-Thabari berkata:
Telah terjadi ijma' (kesepakatan) para ulama akan dibencinya nyanyian dan larangannya. Akan tetapi Ibrahim bin Sa'ad dan 'Ubaidullah al-'Anbari telah menyelesihi jama'ah (dengan membolehkan nyanyian).

 #lihat tafsir  al-Qurthubi  

Muhaddits Negeri Syam Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy –rahimahullah- berkata dalam kitabnya Tahrim Alat Ath-Thorb (hal 105), Sesungguhnya para ulama dan fuqoha –diantaranya empat imam madzhab- sepakat mengharamkan alat-alat musik karena berteladan dengan hadits-hadits Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar Salaf  


Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah  -صلى الله عليه وسلم  bersabda ;


  
لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنِ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari ummatku akan menghalalkan zina, kain sutra, minuman keras (khomer), dan musik“. 
[HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Asyribah (5590)]



Dan rupa nya sungguh sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersebut telah nampak terwujud di masa kini, dimana zina yang dihalalkan yakni dengan disediakannya tempat khusus guna melakukannya.  Kain sutra, ya telah banyak di zaman kini para lelaki yang mengenakannya.  Minuman keras, jikalau dulu jualnya sembunyi saat ini dijualnya secara terang terangan dan bebas, di semua supermarket ada.  Musik, apalagi yang satu ini, seolah tiada hari bahkan detik tanpa musik.


Sungguh diri ini berharap segera beranjak dari keadaan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik dari sebelumnya
 -Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolonglah dan mudahkanlah).-



 Berkenaan dengan bab diatas bisa di dengar langsung dari Ustadz Ahmad Zainuddin Lc Hafidzahullah (Pemateri Radio Rodja/Rodja Tv) dengan mendownload link di dibawah ini dengan cara klik kanan pilih save link like ass
 
Judul
Size
Durasi
Link Download
Semua Suka Musik ?
34,5 Mb
2 jam





kalau mau lihat videonya bisa di 
Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc 








Atau bisa juga dengan pemateri dan cara penyampaian yang beda yaitu Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah MA Hafidzahullah (Pengajar STDI Imam Syafi'i Jember), cara download nya sama.
 
Judul
Size
Durasi
Link Download
Bagi aku Musik itu Halal !
22,79 Mb
1 Jam 39 Menit





 Untuk video nya  bisa di
 Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah MA






Semoga bermanfaat, terutama tuk
Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari


disusun sari katakan dari             semua tentang musik
                                           

Senin, 13 Oktober 2014

Akan kah ku terus begini


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Dalam kesederhanaan keadaan bukan berarti tiada usaha.  Daya upaya dan berbagai bentuk dan model usaha pernah dijalani serta dicoba, namun kesudahannya hanya sampai disini saja.  Maka setiap kali berjumpa dengan sanak kerabat pertanyaan yang meluncur dari bibir mereka adalah Sampai Kapan Kamu akan begini, wajar sih, itu karena mereka tak pernah melihat dan hadir dalam perjalanan dan pergelutan diri dalam berbagai model usaha.  

Dalam kesendirian di keheningan malam tak jarang diri terlarut dalam pemikiran akan berbagai bentuk usaha yang dilakoni oleh orang lain dan mereka menapaki kesuksesan yang gemilang.  Diri pun ingin mencoba namun seringkali terbentur, namun sesungguhnya tiada kata menyerah dalam diri.  


Ya, sungguh teramat manusiawi apabila setiap insan ingin beranjak dari keadaan diri bila itu berkenaan dengan hal yang nampak (material), juga ketika melihat kerabat yang seolah tidak beranjak dari keadaan.  Tak satupun dari mereka yang ingin hidupnya begitu begitu saja, karena mereka merasa malu bila tidak ada perkembangan yang dapat ditonjolkan dari dirinya.  Karena memang dunia nyata nampak dalam pandangan sehingga begitu mengiris ketika melihat hal yang ter lihat memilukan.


Akan tetapi...............suatu hari ketika sedang duduk di serambi sebuah masjid datang menghampir seorang kawan bersahaja, setelah bersalam dan bercakap beberapa waktu munculah sebuah pertanyaan yang seakan mirip sebagaimana pertanyaan para kerabat, yaitu Sampai kapan kamu akan begini, namun kali ini dalam konteks yang sama sekali berbeda.

Ketika kemudian saya tanyakan kepada sang kawan tentang maksud dari pertanyaannya maka dia pun memperincikan pertanyaannya, sampai kapan kamu akan begini saudaraku, semenjak engkau mengenal agama ini hingga kini shalat mu seakan sekedar berlalu, pemahaman akan agama mu hanya apa yang ada pada buku pelajaran sekolahmu, rasa syukur mu hanya cukup dengan lisan mu, tidak kah engkau ingin lebih dan lebih lagi dalam mengenal agama mu, mengenal yang menciptakan mu, mengenal yang memberikan mu rizki, memahami dan menikmati setiap gerakan dalam shalatmu, dan seterusnya dan seterusnya, atau kau cukupkan saja apa yang sudah kau jalani selama ini karena engkau sudah merasa cukup bekal untuk kembali kepada-NYA kelak...........
   

Kembali dalam hening gelap terlintas dalam fikir, bahwa sesungguhnya yang terjadi di muka bumi tidaklah lepas daripada kehendak Allah عزّ و جلّ maka sesungguhnya permasalahan dunia tinggalah kita menjalani saja, karena tidaklah semua terjadi bila memang belum waktunya.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ 
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ 
وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz). [QS Al-An'am ayat 59]

Sebagaimana ayat diatas semua perkara sudah tertuliskan dalam sebuah kitab yang nyata, maka mengapa kita khawatir terhadap urusan dunia sementara kita sudah berusaha karena pada akhirnya tetap semua ditentukan oleh Allah  عزّ و جلّ  hal ini juga sejalan sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم



كتب الله مقادير الخلا ئق قبل أن يخلق السماوات زالأرض بخمسبن ألف سنة
“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557))


atau dalam sabda beliau yang lain
إن أول ما حلق الله القلم, قل له: أكتب! قل: رب وماذا أكتب؟ قل: أكتب مقادير كل شيء حتى تقوم الساعة
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.'”(Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam ­asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu)  


Maka kembali kepada pertanyaan sahabat diatas, menilik sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم  mengenai takdir maka  sesungguhnya yang perlu benar kita perhatikan adalah urusan kita setelah kiamat.  Sungguh benarlah pertanyaan kawan diatas, apa yang sudah diri ini persiapkan ....apakah diri ini akan tetap begini saja, apakah diri ini merasa sudah cukup dengan segala apa yang dilakukan selama di dunia ini....apakah hanya dunia ini saja urusan yang harus diperhatikan padahal itu termasuk hal yang ditentukan.....lantas bagaimana kah diri ini setelah yaumul akhir.....


Semenjak kecil Alhamdulillah sebagian kita telah terlahir sebagai pemeluk agama islam, ini karena bapak ibu serta kakek nenek kita adalah pemeluk agama islam.  Sehingga tiada sedikitpun upaya untuk lebih mengenal tentang agama islam apalagi untuk mengenal Allah عزّ و جلّ,  hal ini berbeda dengan para muallaf yang mereka mengenal islam melalui proses belajar, maka mereka akan terus belajar dan belajar hingga faham betul tentang agama ini.  Padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda:


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مُسْلِمٍ


“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.”

(Hadits sahih, diriwayatkan dari beberapa sahabat diantaranya:  Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhum. Lihat: Sahih al-jami: 3913)


Maka Sampai kapan aku begini tidak mau belajar dan merasa cukup dengan segala apa yang selama ini sudah dikerjakan tidakkah ingin menambah dengan terus belajar dan belajar untuk lebih baik lebih baik lagi dalam menjalankan ketaatan ketaatan terhadap Allah عزّ و جلّ, apalagi apabila dengan menuntut ilmu itu merupakan jalan kita untuk menuju surga, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
 
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah menudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim:2699)


Wahai diri ku yang lemah, kuatkan dan bulatkan tekad untuk bangkit beranjak dari kestabilan tiada peningkatan dalan peribadatan kepada Allah عزّ و جلّ  capailah derajat yang lebih tinggi sebagai hamba.  Ingatlah bahwasannya pernah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah: “Setiap amalan yang dilakukan seorang hamba yang tidak berbentuk ketaatan, ibadah dan amalan saleh maka amalan tersebut merupakan amalan yang batil, sebab dunia ini terlaknat dan terlaknat segala isinya kecuali sesuatu yang dilakukan karena Allah, meskipun amalan batil itu menyebabkan seorang meraih kepemimpinan dan harta, maka seorang pemimpin bisa menjadi Firaun, dan seorang yang gila harta bisa menjadi Qarun.(Majmu’ fatawa:8/76)








#renungan diri di malam sunyi seorang pendamba khusnul khotimah
wonoayu 19 dzulhijjah 1435 H  

Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari



untuk menyimak petuah bijak yang berkenaan dengan yang diatas silahkan klik berikut ini dari ustad DR Syafiq Reza Basalamah MA

untuk download secara audio tinggal klik yang ini

Jumat, 19 September 2014

dan....Bila.........

pic courtesy google


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين

 

Pujian yang tak berhingga selalu kita ucapkan untuk mengungkap rasa syukur kita kepada Allah عزّوجلّ, yang telah menjadikan nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai teladan kita dalam segala sisi kehidupan.

 

Setiap orang mendambakan hidup bahagia di dunia, itu suatu kewajaran.  Hingga berbagai cara dilakukan, pendidikan model apapun ditempuh bahkan sampai berjenjang-jenjang tiada habis.  Akhirnya terlupakan, bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara sebelum menuju kampung keabadian.

Kita sering tersibukkan memikirkan kebahagiaan dunia yang sementara, disamping itu kebahagiaan di akhirat yang bersifat kekal sedikitpun tak pernah terpikir.  Bagaimana caranya, apa saja persyaratannya, sedikit sekali kita berusaha tuk mencari tahu.  Ini berbanding terbalik dengan kebutuhan dunia.  

Karena kita tahu bahwa kita akan mati, maka sebaiknya kita harus selalu mengingat akan mati, karena...............

 

Pertama, Mengingat mati adalah ibadah yang sangat dianjurkan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).

Kedua, Maut kapan saja bisa menghampiri dan tidak akan pernah keliru dalam hitungannya, maka jauhilah perbuatan dosa dari kesyirikan, bid’ah dan maksiat lainnya.

{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ}
Artinya: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).


{وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا} [المنافقون : 11]

Artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila. datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Munafiqun: 11).

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,  “Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui, terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya, akan tetapi dia malah dibawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati). Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya keadaan yang diinginkan.” (Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).

Ketiga, Maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan Allah Ta’ala semata, tetapi dia pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup.


( كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ) [آل عمران : 185]

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).


(إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) [لقمان: 34 ]

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34).

Keempat, Siapa yang mati mulai saat itulah kiamatnya, tidak ada lagi waktu untuk beramal.


عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ الأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ مَتَى السَّاعَةُ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ فَقَالَ «إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ»
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Orang-orang kampung Arab jika datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya tentang hari kiamat, kapan datangnya, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kepada seorang yang paling muda dari mereka, kemudian beliau bersabda: “Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian, maka mulai saat itulah kiamat kalian datang.” (HR. Muslim).


المغيرة بن شعبة رضي الله عنه: أيها الناس إنكم تقولون: القيامة، القيامة؛ فإن من مات قامت قيامته.

Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian mengucapkan: “Kiamat, kiamat…maka ketahuilah, siapa yang mati mulai saat itulah dibangkitkan kiamat dia.” (Lihat kitab Al Mustadrak ‘Ala majmu’ al Fatawa, 1/88).

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang demikian itu, karena seorang manusia jika mati, maka dia masuk ke dalam hari kiamat, oleh sebab itulah dikatakan: ‘Siapa yang mati mulailah kiamatnya, setiap apa yang ada sesudah kematian, maka sesungguhnya hal itu termasuk dari hari akhir. Jadi, alangkah dekatnya hari kiamat bagi kita, tidak ada jaraknya antara kita dengannya, melainkan ketika sesesorang mati, kemudian dia masuk ke kehidupan akhirat, tidak ada di dalamnya kecuali balasan atas amal perbuatan. Oleh sebab inilah, harus bagi kita untuk memperhatikan poin penting ini.” (Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474).

Kelima, Dengan mengingat mati melapangkan dada, menambah ketinggian frekuensi ibadah


عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها”
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’.

Ad Daqqaq rahimahullah berkata,


“من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة، ومن نسى الموت عوجل بثلاثة: تسويف التوبة، وترك الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة”  تذكرة القرطبي : ص 9
Artinya: “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah” (Lihat kitab At Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al Akhirah, karya Al Qurthuby).

Keenam, Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal, mari perhatikan riwayat berikut:


عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»
 Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).

Ketujuh, Hari ini yang ada hanya beramal tidak hitungan, besok sebaliknya.
Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,


ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ.
Artinya: “Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” (Lihat kitab Shahih Bukhari).

 

dicatat dari kajian : ust. Ahmad Zainuddin,Lc 

oleh yang mendamba husnul khatimah  

Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari

 

 

Senin, 15 September 2014

Buah ranum yang nikmat

pic courtesy google
pi


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Segala puja dan puji adalah kepunyaan Allah Subhanallahu Wata'ala semata pemilik segala yang ada di bumi dan langit serta yang ada diantara dan sekitarnya.

Qodarullah sebagian dari kita telah menjadi islam sejak dalam kandungan, dikarenakan kedua orangtua kita adalah islam, dan ketika kita mulai memahami segala hal maka kita juga memahami makna dari islam itu sendiri yakni dengan berucap kalimat syahadat yang menandakan bahwa kita beriman. 

Namun, apakah kita sudah bisa merasakan manisnya daripada iman itu sendiri.

Bagaimanakah agar kita bisa merasakan manisnya iman ? Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasalam bersabda 

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار

“tiga perkara bila mana terdapat diri seseorang akan merasakan manisnya iman : yaitu bila Allah dan rasulnya lebih ia cinta daripada selain keduanya, dan hendaknya ia mencintai orang yang tidak cinta kepadanya kecuali karena Allah semata, dan ia enggan / benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana kebenciannya bila di masukkan ke neraka”
[hadits Muhammad bin mutsanna telah berkata ; telah bercerita kepada kita  abdul wahab as tsaqofi, telah bercerita kepada kita Ayyub dari abi qolabah dari annas radhiyallahu 'anhum]


Setiap orang yang menanam pohon pasti ingin merasakan buahnya, dan bila kita sudah menyatakan diri beriman maka sudah selayaknya kita juga bisa merasakan nikmat manis buahnya.  Demikianlah perumpamaan yang diberikan Allah di dalam firman-Nya, dan memanglah Allah senantiasa memberikan perumpamaan agar manusia mudah memahami setiap kandungan Al-quran dan Hadits.


وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖوَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (QS. al-’Ankabūt : 43)

Dan perumpamaan terhadap pohon adalah sejalan dengan firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 24 - 25

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗوَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.


Dimanakah hubungan antara pohon dan keimanan, ibaratkan pohon maka agar bisa tumbuh dengan bagus menjulang tinggi beranting banyak dan berbuah lebat maka diperlukan akar yang kuat, sebagaimana disebutkan dalam surat al-ankabut ayat 43 diatas dasar atau akarnya adalah ilmu.
Seperti itulah iman kita, sebagai akar atau daripada keimanan itu adalah ilmu dan keyakinan.  
Antara ilmu dan keyakinan keduanya saling berketerkaitan, karena adanya ilmu maka kita menjadi lebih yakin dan dengan adanya keyakinan maka kita mudah untuk menerima dan menyerap ilmu.
Maka yang pertama harus benar-benar kita perhatikan adalah akar dari keimanan yaitu ilmu dan keyakinan.


Apabila akar telah tumbuh bagus maka akan terciptalah batang pohon yang kuat, dan batang dari keimanan adalah ikhlas
Dengan adanya ilmu dan keyakinan yang mantab maka segala apa yang akan kita lakukan akan kita lakukan dengan ikhlas.

Dan karena batang kuat dan sehat maka akan memunculkan banyak cabang dan ranting, pada pohon keimanan cabang dan ranting tersebut adalah amal shaleh
Jadi dengan ilmu dan keyakinan yang mantab sebagai akar yang menembus bumi maka batang keikhlasan akan tumbuh kuat dan kokoh guna menopang segala amalus shalehah. 
Semakin kuat iman dan keyakinan maka akan semakin menjulang tinggi rasa ikhlas yang muncul dalam menumbuhkan amalan amalan shaleh.  
        

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa pohon keimanan tumbuh dengan baik, sehingga akhirnya akan memunculkan buah daripada keimanan yaitu akhlaqul karimah, akhlaq yang baik.  
jadi dengan ilmu dan keyakinan yang mantab maka akan tumbuh rasa ikhlas yang kokoh guna menopang setiap amal shaleh sehingga akan memunculkan akhlaqul karimah.  Bila kita sudah mengaku beriman namun belum merasakan manisnya buah daripada keimanan itu sendiri, yakni dengan nampaknya akhlaq yang terpuji maka yang harus diperiksa adalah akar dari keimanan kita, apakah sudah mantab keyakinan kita apakah sudah cukup kita dalam menuntut ilmu.   

Mengenai keutamaan menuntut ilmu Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah berkata

الناس محتاجون إلى العلم أكثر من حاجتهم إلى الطعام و الشراب لأن الطعام والشراب يحتاج إليه في اليوم مرة أو مرتين والعلم يحتاج إليه بعدد الأنفاس

“Manusia membutuhkan ilmu lebih banyak dari pada butuhnya pada makanan dan minuman, dikarenakan kebutuhan seseorang terhadap makanan dan minumam dalam sehari sekali atau dua kali. Dan kebutuhan manusia terhadap ilmu sebanyak tarikan nafas.”  

الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه - See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2013/05/20/24688/mengapa-kebutuhan-ilmu-melebihi-butuhnya-makan-dan-minum/#sthash.L2XXgzT7.dpuf
الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه - See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2013/05/20/24688/mengapa-kebutuhan-ilmu-melebihi-butuhnya-makan-dan-minum/#sthash.L2XXgzT7.dpuf
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :
الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه - See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2013/05/20/24688/mengapa-kebutuhan-ilmu-melebihi-butuhnya-makan-dan-minum/#sthash.L2XXgzT7.dpuf
Ketika kita menanam suatu pohon maka gulma atau tanaman pengganggu akan muncul disekitarnya, demikian pula dengan pohon keimanan.   Ketika kita hendak menumbuhkan pohon keimanan kita maka akan muncul tanaman pengganggu yaitu syahwat dan syubhat.  
Syahwat akan mengganggu dengan hantaman berupa nafsu akan keduniaan, sehingga setiap kali kita akan menuntut ilmu menghadiri taklim maka akan datang rasa khawatir tentang segala pemenuhan kebutuhan hidup.  Kita menjadi terlupakan bahwa Allah Subhanallahu Wata'ala adalah Yang Maha Pemberi rejeki, seolah kita meyakini bahwa dengan kerja keras kita lah maka segala kebutuhan hidup terpenuhi.  
Dikisahkan suatu hari sahabat Abu Bakar rhadiyallahu anhum mengatakan, "aku serahkan seluruh harta ku dijalan Allah dan untuk Rasulullah."  kemudian ada yang bertanya, "Akan kau tinggalkan apa terhadap anak-anakmu ?"  maka Abu Bakar pun menjawab, "Akan aku tinggalkan kepada mereka Allah dan Rasul-Nya."
Begitulah gambaran seorang yang sudah benar mantab ilmu dan keyakinannya, sehingga tiada sedikitpun keraguan dalam menegakkan keimanan dalam dirinya.


Sedangkan tanaman syubhat akan mengganggu keimanan kita dengan jalan menggerogoti keimanan kita, menumbuhkan keraguan pada diri memunculkan kerancuan kerancuan akan ilmu yang haq sehingga menguatkan keraguan dalam diri.
  

 Maka bila kita ingin pohon kita kokoh kuat dan bertumbuh dengan baik, maka rawatlah selalu akarnya.  Berikan nutrisi dengan cukup, perbanyak ilmu syar'i, datangilah selalu majlis ilmu, jangan biarkan sedikitpun waktu terluang tanpa ada ilmu yang kita dapatkan.




dicatat dari kajian Ust. Kholiful Hadi
oleh :Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari