Selasa, 02 September 2014
mengenal WALISONGO
Jejak awal penyebaran Islam di tanah Jawa
Banyak yang mengenal dan hafal nama-nama walisongo, serta meyakini bahwa merekalah penyebar agama islam di tanah jawa ini. Benar, memang benar dan tidak salah, tapi alangkah bijaknya bila kita mengetahui dari awal perjalanan bagaimana Islam mulai dikenalkan di tanah Jawa ini.
Karena kekayaan akan aneka macam rempahnya maka jawa termasuk yang paling banyak dikunjungi saudagar dari berbagai manca negara, dan diantaranya adalah dari Gujarat (India). Berdasarkan kitab Kanzul Ulum karya Ibnul Bathuthah inilah dikatakan bahwa para saudagar dari Gujarat tersebut yang melapor kepada Sultan Turki Muhammad I bahwa pemeluk agama islam di tanah jawa masihlah sangat sedikit. Dan sebagai tindak lanjutnya, maka Sultan Muhammad I membentuk tim yang terdiri Sembilan Orang untuk berangkat dan mengenalkan tentang islam di tanah jawa.
Mereka adalah :
1. Maulana Malik Ibrahim berasal dari Turki, beliau adalah ahli dalam bidang irigasi dan tata pemerintahan.
2. Maulana Ishaq dari Samarkan, merupakan seorang yang ahli dalam bidang pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro berasal dari Mesir
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi dari Maroko
5. Maulana Malik Isro'il berasal dari Turki, merupakan ahli pemerintahan.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar dari Iran, yang juga ahli dalam pengobatan.
7. Maulana Hasanudin dari Palestina
8. Maulana Aliyuddin juga dari Palestina
9. Syekh Subakir dari Iran, yang merupakan ahli dalam bidang kemasyarakatan.
Keberangkatan dan kedatangan mereka bersembilan ke tanah jawa saat itu adalah sangat tepat, karena saat itu Majapahit yang sedang berkuasa pun sedang dilanda perang saudara (perang paregreg) sehingga kehadiran mereka tidak begitu menarik perhatian penguasa.
yang perlu diketahui adalah, walaupun jumlah mereka sembilan namun Sultan Muhammad I tidak pernah menyebut atau menamai mereka sebagai Walisongo atau wali sembilan ataupun sembilan wali dan dalam bidang keagamaan mereka belumlah terlalu mumpuni, jadi bisa dikatakan mereka sebagai pembuka jalan atau awalan.
Pada tahun 1421 M ditunjuklah Ahmad Ali Rahmatullah dari Champa sebagai penerus Maulana Malik Ibrahim guna memimpin penyebaran agama islam di tanah Jawa. Beliau adalah keponakan dari Maulana Ishaq, dan beliau merupakan putra dari Ibrahim Asmarakandi menantu dari raja Champa. Penunjukan atas diri Ahmad Ali Rahmatullah adalah sangat tepat selain ilmu agamanya yang lebih mumpuni, bibi beliau adalah istri dari putra mahkota Majapahit. Sehingga sangat diharapkan dapat mengajak prabu Kertawijaya memeluk agama islam, atau setidaknya tidak menghalangi penyebaran agama islam di tanah jawa. Mengenai dialog antara Ahmad Ali Rahmatullah dan prabu Kertawijaya yang berisi ajakan untuk memeluk agama islam adalah sebagai mana tertulis dalam kitab Walisana dengan langgam sinom pupuh IV bait 9 - 11 dan 12 - 14.
Karena masih masuk sebagai kerabat istana, maka Ahmad Ali Rahmatullah sering dipanggil dengan sebutan raden atau tepatnya Raden Rahmat yang kemudian oleh raja Majapahit diberikan kekuasaan atas wilayah Ampeldento yang kemudian dijadikan sebagai pesantren dan basis penyebaran agama islam. Dari sinilah kemudian Raden Rahmat atau Ahmad Ali Rahmatullah kemudian mendapat sebutan sebagai Sunan Ampel [menurut Widji Saksono{1995 : 23 - 24}].
Kedatangan Raden Rahmat ke tanah jawa tidaklah sendirian, beliau disertai oleh dua pemuda bangsawan yang memiliki ilmu agama yang baik, selain itu beliau juga diikuti oleh 40 orang pengawal. Kedua pemuda bangsawan tersebut adalah Raden Santri Ali yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gresik dan Alim Abu Hurairah yang kemudian lebih dikenal sebagai Sunan Majagung, kedua pemuda ini pada akhirnya bermukim di Gresik.
Pada Tahun 1435 M ketika Maulana Malik Isro'il dan Maulana Muhammad Ali Akbar wafat, para anggota dewan yang tersisa mengajukan permohonan kembali kepada kesultanan Turki untuk dikirimkan penggantinya, namun kali ini mereka meminta agar yang dikirimkan setidaknya memiliki ilmu agama lebih mendalam dari yang sebelumnya.
Maka pada tahun 1436 M dikirimkanlah dua orang juru dakwah pengganti, yaitu :
1. Sayyid Ja'far Shodiq dari Palestina, pada akhirnya beliau bermukim di Kudus dan kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus.
Dalam buku babad Demak karya Atmodarminto (2001) disebutkan, bahwa Sayyid Ja'far Shodiq adalah satu-satunya anggota dewan walisongo yang paling menguasai ilmu fiqih.
2. Syarif Hidayatullah dari Palestina, beliau adalah seorang ahli perang.
Menurut buku Babad tanah Sunda babad Cirebon karya PS Sulendraningrat (tanpa tahun) Syarif Hidayatullah adalah cucu prabu Siliwangi dari Pajajaran, hasil dari pernikahan Rara Santang dan Sultan Syarif Abdullah dari Mesir.
Pada akhirnya Syarif Hidayatullah bemukim di Cirebon dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati .
Seiring berjalannya waktu para anggota sembilan utusan kesultanan Turki yang pertama mulai habis, setelah wafatnya Maulana Malik Ibrahim, Maulana Malik Isro'il, Maulana Muhammad Ali Akbar kemudian tahun 1462 disusul oleh Maulana Hasanudin dan Maulana Aliyuddin serta kembalinya Syekh Subakir ke Persia dan perginya Maulana Ishaq untuk berdakwah ke Pasai, maka para anggota dewan yang tersisa seperti saat sebelumnya menggantikan empat terakhir yang berkurang dengan empat anggota baru. Namun untuk kali ini mereka tidak lagi meminta bantuan atau dukungan dari kesultanan Turki, namun menunjuk dari kalangan sendiri yang sebagian adalah asli bangsa pribumi.
Mereka berempat itu adalah :
1. Raden MAKHDUM IBRAHIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di desa Mbonang, Tuban. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN MBONANG atau Sunan Bonang.
2. Raden QOSIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di lamongan dan dikenal dengan nama SUNAN DRAJAT.
3. Raden PAKU, putra Maulana ISHAQ yang bermukim di Gresik dan selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN GIRI.
4. Raden Mas SAID, putra Adipati Tuban yang bermukim di Kadilangu, Demak. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN KALIJOGO.
Mulai saat itu dan selanjutnya penggantian anggota dewan diambilkan dari kalangan sendiri yang sudah dididik ilmu agama secara baik, sehingga pada akhirnya mulai banyak dari pribumi sendiri yang menjadi anggota dewan. Nampaknya bersamaan dengan itu, orientasi ajaran islam mulai berubah yaitu dari Arab Sentris menjadi Islam Kompromistis. Dan pada saat itulah tubuh walisongo mulai terbelah antara kelompok futi`a dan aba`ah atau putihan dan abangan, barangkali pada saat itu pulalah muncul istilah Walisongo. Isi kitab walisana yang ditulis oleh Sunan Giri pun yang ditulis pada awal abad 16 banyak berbeda dengan buku-buku sunan Mbonang yang masih menjelaskan ajaran Islam yang murni.
Demikianlah sekelumit perjalanan penyebaran agama islam di tanah jawa yang dimulai dari sembilan utusan dari kesultanan Turki yaitu
1. Maulana Malik Ibrahim
2. Maulana Ishaq
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi
5. Maulana Malik Isro'il
6. Maulana Muhammad Ali Akbar
7. Maulana Hasanudin
8. Maulana Aliyuddin
9. Syekh Subakir
dilanjutkan oleh Sembilan Wali atau Walisongo yaitu
1. Sunan Ampel
2. Sunan Gresik
3. Sunan Majagung
4. Sunan Kudus
5. Sunan Gunung Jati
6. Sunan Bonang
7. Sunan Drajat
8. Sunan Giri
9. Sunan Kalijogo
Pada masa Walisongo tersebut masih terdapat dua nama dari angkatan pertama yang masih hidup yaitu Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Al Maghrobi, beliau berdua diperkirakan wafat sekitar tahun 1465 M.
Pada tahun 1466 M karena dirasa kurang maka anggota dewan menambahkan lagi dua anggota baru ke dalam jajaran anggota dewan, yaitu
1. Raden FATAH, putra Raja Majapahit Brawijaya V yang saat itu merupakan Adipati Demak.
2. FATHULLAH KHAN, putra Sunan Gunung Jati yang dimaksudkan untuk membantu tugas ayahandanya yang sudah berusia lanjut.
dan karena pimpinan dewan Sunan Ampel dianggap telah lanjut usia maka pimpinan dewan diserahkan kepada Sunan Giri.
Dan pada tahun 1478 M ketika Raden Fatah dinobatkan sebagai Sultan Demak Bintoro maka anggota dewan pun dilakukan perombakan ulang, apalagi saat itu Sunan Gunung Jati telah lengser karena faktor usia. Nama nama yang kemudian masuk dalam jajaran dewan adalah :
1. Raden UMAR SAID, putra Sunan Kalijogo yang kemudian lebih dikenal sebagai SUNAN MURIA.
2. Sunan PANDANARAN, murid Sunan Kalijogo yang bermukim di Tembayat, juga dikenal sebagai SUNAN TEMBAYAT.
Menurut kitab walisana karya Sunan Giri, status Sunan Muria dan Sunan Padanaran hanya sebagai wali penerus atau wali nubuah atau wali nukbah. Dan kitab walisana juga sama sekali tidak pernah menyebut nama Fathullah Khan sebagai anggota walisongo, barangkali hal itu terjadi karena begitu diangkat menjadi anggota walisongo, Fathullah Khan langsung disebut sebagai Sunan Gunung Jati seperti sebutan untuk ayahandanya.
Wallahu'alam
Demikianlah sedikit kisah sejarah yang bisa saya bagikan disini, semoga bisa bermanfaat untuk saya pribadi dan pengunjung blog catatan pribadi saya ini umumnya.
Dan dibawah ini juga saya sertakan link kajian Bersikap bijak pada ajaran Walisongo yang disampaikan oleh beliau Al-Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin, Lc
- Bersikap bijak pada ajaran Walisongo 1
- Bersikap bijak pada ajaran walisongo 2
seperti biasa jangan lupa klik kanan dan pilih save link like ass....untuk download.
saya Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari
Mohon maaf bila sekiranya ada yang tidak berkenan, tulisan ini disusun ulang dari
E.A. Indrayana
Pemerhati Sejarah Kerajaan Jawa
Tinggal di Bekasi
dengan Pustaka :
o Hasanu Simon, 2004, Peranan Walisongo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa Dalam Misteri Syekh Siti Jenar, Pustaka Pelajar, Jogjakarta.
o Sulendraningrat, 1984, Babad Tanah Sunda Babad Cirebon.
o Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA, tanpa tahun, Kisah Walisongo, Karya Ilmi, Surabaya.
o Widji Saksono,1995, Mengislamkan Tanah Jawa:Telaah atas Metode Dakwah Walisongo,Penerbit Mizan, Bandung.
o Atmodarminto, R., 2000, Babad Demak;Dalam Tafsir Sosial Politik Keislaman dan Kebangsaan, terjemahan Saudi Berlian, Millenium Publisher, Jakarta. (© Banyu Mili 2009) Selesai.
dari moslem sunnah
Kamis, 28 Agustus 2014
Sepanjang Jalan Kenangan4 (Potret Soerabaia tempo doeloe)
mlaku mlaku nang Suroboyo
#bagian empat
Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan berkelana di kota surabaya lama setelah sebelumnya kita memulai dari ujung utara kota yaitu kawasan pelabuhan tanjung perak, kemudian dilanjutkan melangkah ke selatan ke kawasan perdagangan kramat gantungdimana kita melihat bahwa ternyata Surabaya hampir memiliki benteng seperti Jogja, lalu dilanjutkan lagi perjalanan ke daerah yang paling terkenal yaitu Tunjungan yang merupakan ikon kota sehingga ada lagunya, mlaku-mlaku nang tunjungan........
kini kita bergerak semakin dalam memasuki kota.
Setelah kita meninggalkan tunjungan di kawasan pertigaan embong malang maka kita akan melihat apotek simpang, yang sampai hari ini masih terlihat utuh namun sudah tak ada papan penunjuk arah di depannya.
Di seberang Grahadi saat ini ada sebuah kantor pos di ujung jalan, pada yahun 1920 an bangunan inilah yang berdiri disana dan nampaknya sisa sisanya masih nampak pula pada kantor pos saat ini.
kemudian bila geser ke timur lagi ada disana pernah berjaya ayam goreng pemuda dan gedung bioskop Indra. beginilah dia bangunannya. Saat itu tahun 1950 an masih digunakan sebagai toko Maxim dibawahnya.
Maaf bila ada kesalahan keterangan atau kekurangannya, saya
#bagian empat
Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan berkelana di kota surabaya lama setelah sebelumnya kita memulai dari ujung utara kota yaitu kawasan pelabuhan tanjung perak, kemudian dilanjutkan melangkah ke selatan ke kawasan perdagangan kramat gantungdimana kita melihat bahwa ternyata Surabaya hampir memiliki benteng seperti Jogja, lalu dilanjutkan lagi perjalanan ke daerah yang paling terkenal yaitu Tunjungan yang merupakan ikon kota sehingga ada lagunya, mlaku-mlaku nang tunjungan........
kini kita bergerak semakin dalam memasuki kota.
Setelah kita meninggalkan tunjungan di kawasan pertigaan embong malang maka kita akan melihat apotek simpang, yang sampai hari ini masih terlihat utuh namun sudah tak ada papan penunjuk arah di depannya.
apotek simpang tahun 1930 an
Dahulu papan penunjuk arah seperti diatas banyak bertebaran di setiap persimpangan jalan, namun kini sudah tak ada lagi, sehingga seringkali orang bingung arah mana yang yang harus di tempuh.
apotek simpang 1920 an
foto diatas menurut informasi diambil tahun 1920 an nampak sisi kanan jalan Basuki Rahmad saat ini.
apotek simpang 1920 an
foto diatas nampak seperti kereta kelinci di masa kini, ini semacam hiburan tempo dulu dari kebon rojo muter simpang balik lagi kebon rojo, kira kira begitu adanya.
Perjalanan kita lanjut belok ke kanan masuk pemuda, kalo masa kini ada hotel natour simpang di kiri jalan maka bayangin bangunan seperti apa dulunya di situ.
pojok simpang dukuh 1957 an
Dari dahulu kala memang kawasan tersebut sudah padat, dan kini semakin menjadi hingga seringkali terjadi kemacetan.
coba mundur sedikit lagi kita kembali ke pojok simpang dan kita lihat kawasan tunjungan dari sana, akan nampak lalu lintas yang padat namun masih muat untuk dua arah sementara sekarang untuk satu arah saja sudah padat.
simpang lonceng 1960 an
Kembali kejalan pemuda dari Simpang Dukuh ke timur ada Grahadi di sana, awal dibangunnya Grahadi sebenarnya menghadap ke arah kalimas bukan ke jalan pemuda seperti saat ini, karena memang pemandangan sungai kalimas masa itu sangatlah indah.
inilah gambaran grahadi dari berbagai sudut pandang
grahadi 1795 an saat masih menghadap kalimas
sementara sisi depan masih rimbun pepohonan
Di seberang Grahadi saat ini ada sebuah kantor pos di ujung jalan, pada yahun 1920 an bangunan inilah yang berdiri disana dan nampaknya sisa sisanya masih nampak pula pada kantor pos saat ini.
kemudian bila geser ke timur lagi ada disana pernah berjaya ayam goreng pemuda dan gedung bioskop Indra. beginilah dia bangunannya. Saat itu tahun 1950 an masih digunakan sebagai toko Maxim dibawahnya.
bioskop Indra dan toko maxim 1950 an
Dan diseberang (sisi utara) ada balai pemuda, beginilah penampakannya pada masa itu dan hingga kini masih terjaga keasliannya.
Setelah dari nperempatan pemuda kita belok kanan dulu, ke arah selatan disana kita akan masuk jalan panglima sudirman, dan inilah gambarannya
panglima sudirman 1920 an
toko roti granada dipojok pangsud
Gambar diatas adalah pojokan pangsud diperempatan jalan pemuda, berdasar info yang ada foto diatas diambil tahun 1930 an.
Apabila perempatan pemuda ke kiri maka kita akan mengarah ke balaikota atau di kenal dengan istilah kotamadya. dan sebelum sampai sana di sebelah kanan ada toko ice cream terkenal yakni Zangrandi
Sebagai yang pernah tinggal di Surabaya pasti pernah paling tidak mencicipi ice cream di Zangrandi, selain di tempat asalnya ini zangrandi juga buka cabang di jalan tunjungan dekat siola, tapi sekarang tak berbekas, tinggal yang di jalan pemuda ini saja.
Kemudian kita lurus ke utara maka nampaklah balai kota
balai kota 1920 - 1925 an
balai kota 1950 an
balai kota 1966 an
balai kota dari sisi timur
Kemudian kembali ke jalan ujtama jalan pemuda, bila dari perempatan lurus ke timur maka kita akan jumpai rumah sakit Simpang yang kini bekas bekasnya sudah tak nampak lagi karena sudah jadi bangunan modern yang namanya Delta Plasa atau Surabaya Plaza
rumah sakit simpang 1920 an
Dari rumah sakit simpang terus ke timur kita akan sampai di stasiun gubeng
stasiun gubeng 1920 -1930an
stasiun gubeng 1935 an
dari stasiun gubeng ke timur lagi maka kita akan jumpai fakultas kedokteran tertua di surabaya yang letaknya berhadapan dengan rsud dr.soetomo.
Bila dari jalan pemuda menisiri kalimas ke arah selatan maka kita akan menyusuri jalan kayun dan antara jalan kayun dan jalan gubeng kala itu masih dihubungkan oleh jembatan kayu, lokasin nya di jalan irian barat saat ini (dekat kantor indosat).
jembatan goebeng 1900 an
Kembali lagi pada wilayah kotamadya atau balai kota bila kita tarik ke utara maka kita akan menemukan THR atau Taman Hiburan Rakyat.
THR tahun 1925 an
Demikian lah sementara mlaku mlaku nang suroboyo nya untuk saat ini, kita hentikan dulu berputar putar di tengah kota. Semoga bisa sedikit mengingat pada kota tercinta hal-hal manis di masa lampau, dan semoga masih bisa berlanjut lagi hingga purna akhir perjalanan.
sumber-sumber foto :
dan
juga
suwun dulur
Maaf bila ada kesalahan keterangan atau kekurangannya, saya
Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari
Rabu, 27 Agustus 2014
Edi si Iseng (maksudnya edisi iseng)
Mungkin ketika kau membaca ini kamu sudah tak bisa lagi menemuiku, entah aku telah pergi jauh ataupun mungkin aku telah benar benar pergi ke tempat yang jauh sekali.
Memang aku sengaja menyimpan tulisan ini dengan amat rapi agar kamu benar benar merasakan sesuatu yang berbeda ketika membacanya, dan rasa beda itu terutama akan muncul karena aku tak di dekatmu lagi.
Tapi, sungguh aku berharap padamu, agar kamu jangan risau gelisah bahkan gundah gulana, bacalah saja tulisan ini seperti biasa, anggap saja kita saat ini sedang berhadapan dan kamu sedang mendengarkan aku berbicara (seperti biasanya).
Karena jujur aku senang banget berkawan denganmu, karena kamu adalah pendengar yang baik, gak pernah menyela, nyolot, apalagi memotong perkataanku.
Sungguh bagiku kamu tiada duanya sebagai teman.
kawan, sebenarnya aku bingung mau memulai dari mana tulisan ini, karena sesungguhnya aku sendiri juga merasa berat bila harus menyampaikan isi hatiku ini padamu.
Karena aku takut bila nanti kamu akan marah, kecewa bahkan muncul perasaan tidak suka padaku.
Setiap aku mencoba untuk memulai namun setiap kali itu pula semuanya membeku terdiam tersimpan dalam kepala tak mau tertuang dalam bentuk tulisan.
Dan setiap kucoba lagi hasilnya tetap sama, bahkan yang muncul adalah sakit kepala puyeng cenut cenut gak karuan.
Maka, setelah sekian lama aku mencoba dan terus mencoba maka akhirnya lepas semuanya dan inilah yang ingin aku tuliskan sebagai pesan untukmu.
"TOLONG PLEASE JANGAN DIBACA SAMPAI HABIS TULISAN INI, KARENA INI CUMA ISENG."
#edisiiseng
Selasa, 26 Agustus 2014
3 - Aisyah binti Abu Bakar (sekitar 604-678 Masehi)
‘Aisyah adalah putri dari Abu Bakar (khalifah pertama), hasil dari pernikahan dengan isteri keduanya yaitu Ummi Ruman yang telah melahirkan Abd al Rahman dan Aisyah.
Ayah Aisyah, Abu Bakar merasa Aisyah sudah cukup umur untuk menikah, karena hal itu, Aisyah akan dinikahkan dengan Jubayr bin Mut'im, tetapi pernikahan tersebut tidak terjadi disebabkan Ayah Jubair, Mut‘im bin ‘Adi menolak aisyah dikarenakan Abu Bakar telah masuk Islam pada saat itu. Istri Mut'im bin Adi mengatakan tidak mau keluarganya mempunyai hubungan dengan para muslim, yang dapat menyebabkan Jubair menjadi seorang Muslim.
Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun, dimana Aisyah menjadi istri ketiga Muhammad setelah Khadijah dan Saudah binti Zam'ah. Tetapi terdapat berbagai silang pendapat mengenai pada umur berapa sebenarnya Muhammad menikahi Aisyah?
Sebagian besar referensi (termasuk sahih Bukhari dan sahih Muslim) menyatakan bahwa upacara perkawinan tersebut terjadi di usia enam tahun, dan Aisyah diantarkan memasuki rumah tangga Muhammad sejak umur sembilan tahun.
Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan Ghulam Nabi Muslim Sahib, dengan berdasarkan referensi dari Kitab Ahmal fi Asma’ al-Rijjal karangan al-Khatib al-Tibrizi dimana dalam kitab tersebut disebutkan Setidaknya Aisyah berumur 19 tahun saat menikah dengan Nabi. Wallahu'alam.
Awal mula
pernikahan ini, adalah ketika Khaulah binti Hakim menemui Nabi SAW beberapa
waktu setelah meninggalnya Khadijah RA. Ia menanyakan kesediaan Nabi SAW untuk
menikah lagi, dan ia memberikan pandangan, jika janda, adalah Saudah binti
Zam'ah bin Qais, dan jika gadis, adalah Aisyah binti Abu Bakar. Nabi SAW
menyerahkan urusan ini pada Khaulah. Ketika Khaulah menemui orang tua Aisyah,
baik ibunya, Ummu Ruman atau bapaknya Abu Bakar sempat terkejut, karena Aisyah
masih termasuk keponakan Nabi SAW sendiri.
Khaulah kemudian menemui
Nabi SAW tentang status Aisyah yang masih keponakan beliau, tetapi beliau
menyampaikan bahwa Aisyah tidak termasuk keponakan yang terlarang untuk
dinikahinya. Abu Bakar dan Ummu Ruman dengan gembira menerima lamaran Nabi SAW
lewat Khaulah ini. Nabi SAW datang ke rumah Abu Bakar, dan beliau dinikahkan
sendiri oleh Abu Bakar dengan putrinya, Aisyah.
Beberapa bulan lamanya
setelah tinggal di Madinah, Abu Bakar bertanya kepada Nabi SAW, tentang
putrinya,
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengajak Aisyah tinggal
bersama engkau?"
"Saya tidak
mempunyai peralatan rumah tangga..!" Kata Nabi SAW.
Mendengar
jawaban beliau itu, Abu Bakar membeli peralatan rumah tangga yang diperlukan,
dan membawanya ke rumah Rasulullah SAW. Setelah semuanya siap, Abu Bakar
mengantarkan Aisyah ke rumah beliau, di bulan Syawal tahun 1 atau 2 hijriah di
waktu dhuha.
Setelah
ditinggal wafat Nabi SAW, Aisyah sering memperoleh hadiah uang dari para
sahabat, seperti Muawiyah, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam dll., sehingga
sebenarnya ia tidak dalam keadaan kekurangan. Tetapi didikan Nabi SAW atas
dirinya tidak sedikitpun berubah. Kemurahan dan kesederhanaan tetap menjadi
pola hidupnya sebagaimana yang dijalaninya bersama Nabi SAW, sehingga hidupnya
cenderung dalam kekurangan.
Suatu ketika
Aisyah memperoleh hadiah dua karung uang yang masing-masing berisi 100.000
dirham. Ia membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin dari pagi hingga
sore sehingga tidak tersisa sama sekali. Hari itu Aisyah sedang berpuasa, saat
masuk waktu maghrib, pembantunya datang membawa makanan untuk berbuka berupa
sepotong roti dan minyak zaitun. Ia berkata kepada Aisyah,
"Seandainya
engkau tadi menyisakan satu dirham, tentu aku bisa menyediakan sepotong daging
untuk menu berbuka."
"Mengapa
engkau baru mengatakannya sekarang," Kata Aisyah, "Andai tadi engkau
mengatakannya, tentu kusisakan satu dirham untukmu."
Suatu ketika
Aisyah dalam keadaan puasa, dan hanya memiliki sepotong roti untuk persiapan
berbuka. Tiba-tiba datang datang seorang lelaki miskin meminta makanan kepadanya,
Aisyahpun menyuruh pembantunya menyerahkan sepotong roti yang ada. Pembantunya
berkata,
"Jika kita memberikan roti ini, kita tidak memiliki makanan lagi
untuk berbuka puasa…!"
“Biarlah,
berikan saja roti itu kepadanya." Kata Aisyah.
Keadaan seperti
itu seringkali terjadi, sehingga menyulut rasa kasihan dari keponakannya,
Abdullah bin Zubair, karena hidupnya yang dalam keadaan miskin dan serba
kekurangan. Sebenarnya bukannya tidak ada harta dan uang yang datang, tetapi
karena gemarnya bersedekah, sehingga tidak ada yang ‘sempat’ menginap walau
hanya semalam, sebagaimana seringkali dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Abdullah bin Zubair adalah anak
dari saudaranya, Asma binti Abubakar, dan sejak kecil Aisyah ikut mengasuhnya
hingga ia amat sayang pada bibinya tersebut. Atas sikap kedermawanan bibinya
ini, ia pernah berkata pada salah seorang
sahabat,
"Saya harus menghentikan kebiasaan bibi yang selalu banyak
bersedekah ini…"
Ucapannya itu
ternyata sampai kepada Aisyah, dan ia merasa sangat marah kepada keponakannya,
ia berkata, "Mengapa engkau melarang aku bersedekah?"
Sambil berkata seperti
itu, ia bersumpah tidak akan berbicara lagi dengan Abdullah bin Zubair.
Bagaimanapun juga sikap dermawannya itu adalah didikan dan juga dukungan penuh
Rasulullah SAW selama ia hidup bersama beliau, sehingga tak mungkin ia
meninggalkan atau merubahnya.
Ibnu Zubair
menyadari kesalahannya, ia berusaha untuk meminta maaf dan meminta bibinya
membatalkan sumpahnya tersebut, tetapi Aisyah tetap teguh dengan sumpahnya.
Beberapa sahabat datang untuk membujuknya membatalkan sumpahnya tetapi tidak
berhasil juga. Akhirnya ia meminta bantuan Hasan dan Husain, dua cucu
kesayangan Rasulullah SAW. Dengan suatu siasat Ibnu Zubair berhasil menemui
Aisyah, Hasan dan Husain mengingatkanmya berulang-ulang akan larangan Nabi SAW
memutuskan silaturahmi, sehingga akhirnya Aisyah luluh juga. Ia membebaskan dua
orang budaknya sebagai kafarat membatalkan sumpahnya.
Aisyah
seringkali menangis jika mengingat masalah ini. Pertama karena ketergesaannya
dalam bersumpah, sehingga membawa dampak yang luas bagi orang-orang di
sekitarnya, dan kedua karena ia harus melanggar dan membatalkan sumpah yang
diucapkannya sendiri. Begitu menyesalnya, sehingga air matanya mengalir deras
membasahi kain yang dipakainya.
Aisyah adalah
seorang yang sangat cerdas, masa kanak-kanak dan remajanya bisa dikatakan
dihabiskan bersama Rasulullah SAW. Namun demikian ia mampu menghafal begitu
banyak Hadits dan juga ayat Al Qur'an, padahal saat itu belum populer alat
tulis dan buku catatan sebagai sarana penyimpan informasi. Tak kurang dari
2.210 hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Tidak hanya itu, ia juga mampu
memberikan solusi berbagai permasalahan agama yang mucul kemudian, berdasarkan
apa yang dialaminya bersama Rasulullah SAW. Apa yang disabdakan dan dilakukan
beliau, menjadi dasar acuannya dalam memberikan solusi. Tak jarang beberapa
sahabat terkemuka mendatangi Aisyah
untuk meminta pertimbangan.
Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari
Rabu, 20 Agustus 2014
2 - Saudah binti Zam'ah ibn Qayyis ibn ʿAbdu Syams
Nama lengkap beliau adalah Saudah binti Zam'ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud Al-Quraisyiyah Al-Amiriyyah.
Beliau lahir dari ibu bernama Asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari bani Najjar. Beliau juga seorang Sayyidah yang mulia dan terhormat, beliau pernah menikah dengan As-Sakar bin Amru saudara dari Suhair bin Amru Al-Amiri.
Suatu ketika beliau bersama delapan orang dari bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman dan hartanya, kemudian menyebrangi dasyatnya lautan karena ridha menghadapi maut dalam rangka memenangkan diennya. Namun dalam perjalanannya semakin hari semakin bertambah siksaan dan intimidasi yang mereka hadapi karena mereka menolak kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada hentinya ujian menimpa Saudah secara pribadi juga beserta kelompoknya, dan belumlah usai ujian tinggal dinegeri asing (Habsyah) beliaupun harus kehilangan suami beliau sang muhajirin. Maka akhirnya beliaupun menghadapi ujian menjadi seorang janda disamping juga ujian dinegeri asing.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menaruh perhatian yang istimewa terhadap wanita muhajirah yang beriman dan telah menjanda tersebut. Oleh karena itu melihat yang demikian tiada henti-hentinya Khaulah binti Hakim as-Salimah menawarkan Saudah untuk beliau Rasulullah, dan hingga pada akhirnya beliau mengulurkan tangannya yang penuh rahmat untuk Saudah dan beliau mendampinginya dan membantunya menghadapi kerasnya kehidupan.
Apalagi umurnya telah mendekati usia senja sehingga membutuhkan seseorang yang dapat menjaga dan mendampinginya.
Telah tercatat dalam sejarah tak seorangpun sahabat yang berani mengajukan masukan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul Mukminin ayh-Thahirah yang telah mengimani beliau disaat manusia mengkufurinya dan menyerahkan seluruh hartanya disaat orang lain menahan bantuan terhadapnya dan bersamanya pula Allah mengkaruniakan kepada Rasul putra-putri.
Akan tetapi hampir-hampir kesusahan menjadi berkepanjangan hingga Khaulah binti Hakim memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut dan ramah:
Khaulah :Tidakkah anda ingin menikah ya Rasulullah?
Nabi :(Beliau menjawab dengan suara yang menandakan kesedihan) dengan siapa saya akan menikah Setelah dengan Khadijah?
Khaulah :jika anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.
Nabi : jika dengan seorang gadis,siapakah gadis tersebut?
Khaulah :Putri dari orang yang anda cintai yakni Aisyah binti Abu Bakar.
Nabi :(Setelah beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam diam untuk beberapa saat kemudian bertanya)jika dengan seorang janda?
Khaulah :Dia adalah Saudah binti Zam'ah, seorang wanita yang telah beriman kepada anda dan mengikuti yang anda bawa .
Beliau menginginkan Aisyah akan tetapi terlebih dahulu beliau nikahi Saudah binti Zam'ah yang mana dia menjadi satu-satunya isteri beliau (setelah wafatnya Khadijah) yakni selama tiga tahun atau lebih, baru kemudian masuklah Aisyah dalam rumah tangga Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Orang-orang di Makkah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam'ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi Sayyidah wanita Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para pembesar-pembesar diantara mereka.
Akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tidak dapat menggantikan posisi Khadijah, akan tetapi adalah kasih sayang dan penghibur hati dari Saudah adalah menjadi rahmat bagi beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam yang penuh kasih.
Adapun Saudah radhiallaahu 'anha mampu untuk menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah dan melayani putri-putri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan ringannya ruhnya dan sifat periangnya dan ketidaksukaannya terhadap beratnya badan.
Setelah tiga tahun rumah tangga tersebut berjalan maka masuklah Aisyah dalam rumah tangga Nubuwwah, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafsah, Zainab, Ummu Salamah dan lain-lain. Saudah radhiallaahu 'anha menyadari bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak mengawini dirinya melainkan karena kasihan melihat kondisinya setelah kepergian suaminya yang lama. Dan bagi beliau hal itu telah jelas dan nyata tatkala Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam ingin menceraikan beliau dengan cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya, namun Nabi merasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya. Tatkala Nabi mengutarakan keinginannya untuk menceraikan beliau, maka beliau merasa seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dadanya, maka beliau merengek dengan merendahkan diri berkata: "pertahankanlah aku ya Rasulullah !demi Allah tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan saya akan tetapi hanya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalam keadaan menjadi Istrimu."
Begitulah Saudah radhiallaahu 'anha lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka beliau berikan giliran beliau kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan beliau radhiallaahu 'anha sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.
Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah:
"Maka tidak mengapa bagi keduannya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)."(An-Nisa':128).
Saudah radhiallaahu 'anha tinggal dirumah tangga nubuwwah dengan penuh keridhaan dan ketenangan dan bersyukur kepada Allah yang telah menempatkan posisinya disamping sabaik-baik makhluk di dunia dan dia bersyukur kepada Allah karena mendapat gelar ummul mukminin dan menjadi istri Rasul di jannah.
Saudah radhiallaahu 'anha meninggal dunia pada akhir pemerintahan Umar bin Khattab radhiallaahu 'anha.
Ummul mukminin Aisyah radhiallaahu 'anha senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah berkata:"Tiada seorang wanitapun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia melebihi Saudah binti Zam'ah" tatkala berusia senja yang mana dia berkata: "Ya Rasulullah aku hadiahkan kunjungan anda kepadaku untuk Aisyah" hanya saja beliau memiliki watak keras".
demikianlah kisah tentang Saudah binti Zam'ah isteri kedua Rasulullah
Semoga bermanfaat tuk kita semua.
Langganan:
Postingan (Atom)





-mulai%2B1802%2Bmenghadap%2Bselatan.jpg)



















