Rabu, 04 Juni 2014

Belajar kitab durusul lughah (1)



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

          الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Pujian yang tak berhingga selalu kita ucapkan untuk mengungkap rasa syukur kita kepada Allah عزّوجلّ, yang telah menjadikan nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai teladan kita dalam segala sisi kehidupan.

Sebelumnya saya ingin tegaskan disini bahwa saya bukanlah orang yang lebih pandai dari kalian para pembaca (pengunjung blog ini), saya hanya lah kebetulan memiliki waktu lebih untuk menuliskan kembali apa-apa yang saya pelajari.

dan kali ini saya mencoba membagikan apa yang saya dapat diawal saya belajar bahasa Arab dengan melalui buku Durusul lughah al-arabiyah oleh Syaikh V Abdurrahim, Islamic University Madinah. 

Sebelumnya saya kembali tegaskan, saya tidaklah lebih pandai dari kalian semua, jadi blog ini semacam catatan pribadi apa yang sudah saya dapatkan dan pelajari, maka besar harapan saya bila ada koreksi.


Pelajaran pertama membahas tentang:

*) Kalimat tunjuk dekat yaitu ini. haadzaa  Dibaca Haadzaa. Kata tunjuk ini untuk benda mudzakkar.  

*) Kita juga akan mempelajari kata tanya, yang mana dengan menambahkan partikel alif didepan Haadzaa maka akan menjadikan kata tunjuk tadi menjadi pertanyaan.

*) juga penambahan partikel maa di depan Haadzaa yang menjadikannya kalimat tanya untuk benda atau selain manusia dan man untuk manusia

perhatian gambar-gambar dibawah








 
demikianlah pelajaran pertama yang saya dapatkan sebagai dasarnya, berikutnya adalah latihan, latihan yang biasanya dilakukan adalah dengan menulis kembali soal yang ada dengan menambahkan harokatnya kemudian membacanya di depan guru (ustadz) nya.

yang perlu diperhatikan dalam membacanya adalah huruf yang diikuti partikel alif sendiri harus dibaca dua ketukan namun bisa pula diganti kan dengan harokat fatha tegak ('). semacam haadzaayang dibaca haadzaa.

beikut adalah laitihan-latihannya :
latihan pertama diatas lebih menitik beratkan pembiasaan pelafadzan dan mengingat kosa kata


 latihan yang kedua diperluas lagi, yaitu untuk menyatakan pembenaran, antara ya atau tidak dengan tetap menitik beratkan pada penghafalan kosa kata dan bagaimana melafadzkannya.

 latihan diatas masih menitik beratkan pada pemahaman bagaimana memberikan harokat dan cara melafadzkannya.

 latihan diatas masih sama, namun ada penambahan beberapa kosa kata baru yang harus dihafalkan.

 berikutnya masih tetap latihannya, semakin sering latihan pasti akan semakin mahir.  perhatikan kosa kata baru yang ada.

 perhatikan dan hafalkan kosa kata baru yang ada


dan yang terakhir ini adalah ulangan sebenarnya, cobalah untuk menyalin di buku, memberinya harokat, membacanya, dan mengartikannya..........selamat mencoba



Inilah pelajaran dari kitab  Durusul lughah al-arabiyah oleh Syaikh V Abdurrahim, dari Islamic University Madinah. 

Semoga manfaat untuk kita semua.


  
Akhir kata Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita ganjaran yang baik dan menunjukkan ke jalan yang benar, menghidupkan dan mewafatkan kita diatas Islam dan Sunnah. Serta semoga shalawat dilimpahkan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.



disusun sari kata kan kembali oleh : 
Moh. Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari

 

Selasa, 03 Juni 2014

Membentuk batu jadi permata (Urgensi Pendidikan Anak)

disari susun sari kata kan oleh:
Moh.Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari




بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

          الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Pujian yang tak berhingga selalu kita ucapkan untuk mengungkap rasa syukur kita kepada Allah عزّوجلّ, yang telah menjadikan nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai teladan kita dalam segala sisi kehidupan.

Setiap kita  mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama, yaitu menginginkan agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan diri kita selaku orangtua yang tentu saja sebagai contoh. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!

Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Hal ini disebabkan ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Maka, apabila ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun dalam beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”.
perlu diingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, adalah suka meniru!

Ketika kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, maka gamitlah tangannya dan ajaklah berangkat ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sementara kita sendiri asyik dengan aktivitas kita sendiri, entah itu dengan hewan peliharaan kita, atau membersihkan kendaraan, atau mungkin asik nongkrong di depan televisi.

Kita sungguh berharap agar anak rajin membaca al-Qur'an, maka kita harus meramaikan rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur'an baik itu yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu, atau bahkan musik hingar bingar yang katanya membangkitkan semangat.........padahal tanpa sadar justru memadamkan semangat untuk ibadah.

kadang bahkan seringkali kita melupakan satu hal utama yang sangat penting, yaitu tujuan kita sebagai manusia ini diciptakan untuk apa...?  namun bagaimana kita mau ingat lha membuka kembali kitab tuntunan kita Al-quran aja jarang, atau bahkan mungkin tidak pernah.

Kembali pada bagaimana harapan kita pada anak-anak kita, kita pasti menginginkan agar anak kita tumbuh sebagai anak yang jujur. Namun tanpa sadar sedari kecil kita sudah mengajarkannya berbohong, manakala anak menangis merengek minta ikut dengan kita padahal kita sudah tergesa-gesa akan berangkat bekerja, maka apa yang biasa kita lakukan..."jangan ikut nak, ayah mau ke dokter.....nanti kamu di suntik lho..."
tuh khan, tanpa sadar kita sudah mengajarinya berbohong.
Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.
Tuh khan enak......
 maka bila Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!

Allah عزّوجلّ  berfirman dalam salah satu ayatnya 
 

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

Artinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka”.
QS. Ath-Thur: 21.


 Sungguh, benar-benar sebuah kenikmatan yang membahagiakan, manakala orang tua dapat berjumpa kembali dengan anak-anaknya di dalam surga Allah عزّوجلّ. Merupakan suatu kenikmatan yang sangat besar, dan itu adalah berkat kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat luas. 

Namun perlu diingat, persyaratan yang harus ada (menyertai) adalah yaitu anak-anak mereka juga beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana tercantum secara jelas dalam ayat tersebut. Maka sekali lagi perlu ditegaskan betapa urgennya masalah pendidian anak. 

Perhatikan keterangan Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang ayat di atas berikut ini.

Beliau berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan mengenai keutamaan, kemurahan, kenikmatan dan kelembutan-Nya, serta curahan kebaikan-Nya kepada makhluk. Bahwa kaum mukminin, bila keturunan mereka mengikuti dalam keimanan (sebagaimana keimanan orang tua mereka), niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menempatkan anak-anak yang beriman ini ke derajat orang tua mereka, kendatipun amalan-amalan shalih mereka (anak-anak yang beriman) itu tidak sebanding dengan amalan para orang tuanya itu. Supaya pandangan para orang tua menjadi damai sejuk dengan kebersamaan anak-anaknya di tempat yang sama. Lantas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan mereka dalam kondisi terbaik. Anak yang kurang amalannya terangkat oleh orang tuanya yang sempurna amalannya. Hal ini tidak mengurangi sedikit pun amalan dan derajatnya, meskipun mereka berdua akhirnya berada di tempat yang sama.
(Al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshâri al-Qurthubi, Tahqîq: ‘Abdur-Razzâq al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-’Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M.)

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

(dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka).

Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan: Kami tidak mengurangi pahala amalan anak-anak lantaran sedikitnya amalan mereka. Dan pula, tidak mengurangi pahala para orang tua sedikit pun, meskipun menempatkan keturunan mereka bersama dengan orang tua mereka (yang berada di derajat yang lebih tinggi, Pen.).
(Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Dar Ibnu Hazm, Cetakan I, Tahun 1423 H – 2002 M.)

Atau dengan pengertian lain, seperti diungkapkan oleh Imam ath-Thabari: Kami tidak mengurangi ganjaran kebaikan mereka sedikit pun dengan mengambilnya dari mereka (para orang tua) untuk kemudian Kami tambahkan bagi anak-anak mereka yang Kami tempatkan bersama mereka. Akan tetapi, Kami beri mereka pahala dengan penuh, dan (lantas) Kami susulkan anak-anak mereka ke tempat-tempat mereka (para orang tua) atas kemurahan Kami bagi mereka.
(Kutub wa Rasâ`il, Min Kunûzil Qur`anil Kariim, ‘Abdul-Muhsin al-Abbâd al-Badr)

 Demikianlah, kemurahan dan keutamaan yang diraih anak-anak melalui keberkahan amalan para orang tua. Adapun keutamaan dan kemurahan yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para orang tua melalui doa anak-anaknya, tertuang pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”.
(Tafsîrul-Qur`ânil-’Azhîm, al-Hafizh Abul-Fida Isma’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyi, Dârul Hadîts Kairo 1426H-2005M)

 Hadits ini diperkuat oleh hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dalam Shahîh Muslim:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.
 
 Maka kembali lagi ke awal pembicaraan, bila kita menginginkan anak yang shaleh maka shaleh kan lah diri kita. Anak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,

“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”

“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”.  
HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.

Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.



Mulailah sekarang ayo belajar !
jangan di tunda lagi


Senin, 02 Juni 2014

Jurus Jitu Mendidik Anak



disarikan oleh :
Moh.Eko Subekti bin Sujitno bin Darmo Soemarto bin Khasan Mubari



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

          الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Pujian yang tak berhingga selalu kita ucapkan untuk mengungkap rasa syukur kita kepada Allah عزّوجلّ, yang telah menjadikan nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai teladan kita dalam segala sisi kehidupan.

Mendidik anak adalah hal yang utama, namun bagaimana kah cara mendidik anak yang baik.......apakah cukup dengan memberikan segala yang diinginkan, memenuhi segala kebutuhan, atau memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tidak itu tak cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.
Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.
Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.
Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang!

 Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan.  Begitu pun banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan.  Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua, menjadi seorang bapak ataupun menjadi seorang ibu. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua.  

Sebagai orangtua sebaiknya memiliki ilmu dalam mendidik anak yang banyak jenisnya, yaitu Mulai dari ilmu agama dengan berbagai variannya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.

Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya.
Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”.
HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.


Selanjutnya adalah ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Dan demi merealisasikannya Nabi shallallahu’alaihiwasallam mewasiatkan untuk para orangtua,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”.
HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.

 Lantas bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia sendiri tidak shalat bahkan tidak mengerti tatacara shalat yang benar.
{Rasulullah Shallallahu'alaihi Wassalam pernah bersabda "Shalatlah sebagaimana aku shalat", berikut ini cara shalat Rasulullah  yang mudah diikuti.}

Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain?

 Berikutnya adalah ilmu tentang akhlak, yaitu mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Baik itu bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.

Dalam hal ini Nabi shallallahu’alaihiwasallam mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasehati seorang anak kecil,

“يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ”.

“Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu”. 
 HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah.

 Dan yang tidak kalah pentingnya dalam mendidik anak adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.

Ayo belajar!

Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan.

Marilah kita berusaha untuk betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, 
bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!


disarikan dari petuah bijak
Ust. Abdullah Zaen, Lc. MA, beliau merupakan Alumnus S1 Fakultas Hadits dan Dirasat Islamiyah Universitas Islam Madinah (Cumlaude) pada tahun 2001-2004 dan melanjutkan studinya di S2 Jurusan Aqidah Universitas Islam Madinah (Cumlaude) pada tahun 2005-2009. Kini beliau sebagai Pengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga dan dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyyah “Imam Syafi’i” Jember. 

Minggu, 01 Juni 2014

Sepanjang Jalan Kenangan2 (Potret Soerabaja tempo doeloe)

Parade photo Soerabaja Tempo Doeloe 
#bagian doewa

meninggalkan jalan pahlawan tepat diujung yang merupakan pintu masuk ke kramat gantung disana pernah ada restaurant cantik bernama Grimm & Co, yang didirikan tahun 1888 di bekas lokasi akan dibangunnya benteng kota Surabaya.
foto diatas nampak jalan sisi kiri ke arah kramat gantung yang merupakan kawasan perdagangan mulai jaman dulu.

 gambar diatas diambil sekitar 1898 saat kenaikan ratu Wilhelmina, pada perkembangannya setelah menjadi tempat nongkrong elit orang-orang eropa maka tahun 1920 an restaurant ini mulai redup dan beralih jadi toko ban dunlop seiring masuknya mobil ke surabaya.

gambar diatas diambil perkiraan pasca kemerdekaan dimana Grimm & co hanya sedikit meninggalkan sisa dan di sisi kanan bukanlah gedung peradilan melainkan kawasan tugu pahlawan krn tugu pahlawan dibangun 1952. 

inilah tugu pahlawan pada masa awal berdirinya. 

perhatikan evolusi dari restaurant Grimm & Co (berawal ketika ada rencana pembuatan benteng)
rumah itulah cikal bakal Grimm & co, nampak kramat gantung di sebelah kiri


lihatlah benteng yang nampak megah,andai masih ada mungkin kawasan pahlawan surabaya sama seperti kawasan kraton di jogja


inilah masa-masa awal Grimm & co

 
nampak restaurant mulai sepi


gambaran ketika sudah beralih jadi toko ban dunlop, sudah ada penambahan kaca


nampak ketika berubah jadi kantin militer dimana sedang ada parade pasukan 



sudah mulai tak terpakai


bangunan inilah sekarang yang ada disana


sekarang kita lanjut masuk area kramat gantung, tapi tidak ada salahnya belok ke kiri dulu, jauh kesana di daerah kapasan disana terdapat gedung Boen Bio yang merupakan tempat belajar pelajaran Khonghucu berikut tempat ngumpul kaum elit Tionghoa di Surabaya. Sempat jadi tempat pertemuan politik kaum Tionghoa juga.  


Sekarang kembali ke arah kramat gantung 

masih tetap sebagai sentra perdagangan tapi suasananya berbeda.  

nampak dari gemblongan jembatan peneleh, jalan kramat gantung dan alon-alon contong di kiri.

 inilah ujung jalan alon-alon contong, nampak taman kecil berbentuk seperti contong


begitu keluar kramat gantung kita akan sampai di jalan gemblongan,beginilah disana waktu itu dan sepertinya hingga kini belum berubah

dan ini gambaran beberapa tahun berikutnya, yaitu tahun 1915 an coba bandingkan dengan insertnya yang tahun 2012.

yang dibawah ini tahun 1930an

bandingkan dengan tahun 2008


Kalau ini hasil pemotretan dari atas gedung pln ke arah alun-alun contong tahun 1930an

di ujung gemblongan sebelum pln kalo dari kramat gantung ada SPBU pertama disana, dulu namanya BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij / Batavia Petroleum Maskapai), foto diambil sekitar tahun 1920an, gedung di sebelah kiri yang pernah dipake gedung bioskop King adalah Museum Perdagangan Jepang. Gedung ini dibangun pada tahun 1920 an


 kalo ini pemandangan dari belakang pln gemblongan yang sekarang jadi jl Achmad Jais (plampitan) coba bandingkan antara tahun 1929 dan 2008


kalo ditarik lurus ke utara maka disana ada pasar peneleh yang sekarang jadi tempat pasar buah foto diambil yahun 1928 an, liat kali atau sungai di sampingnya.

setelah nyebrang ke timur, sekarang kita coba melebar ke barat......jalan bubutan, disana ada gereja tua, perhatikan evolusinya....hanya jalanan sekitarnya aja yang berubah



selain itu disana juga ada sebuah rumah sakit, Mardi Santoso namanya....perhatikan evolusinya, dimulai ketika masih jadi panti asuhan





coba kembali ke gemblongan, jalan alon-alon contong difoto dari arah baliwerti tahun 1920 an dan 2008, apanya yamg beda ??


setelah ini akan masuk jalan tunjungan



di koleksi (dikumpulkan) dari
dan
juga

suwun dulur